Welcome to Ilyas' Site

Monday, February 28, 2011

Kota Mati

Oleh Moh. Ilyas

Di kota mati, kemajuan terhenti...

Karena tak ada lagi pembangunan berarti,

Pemerintahnya seperti tak punya hati

atau terlalu bertindak hati-hati...


Di kota mati, pemerintah selalu mengejar upeti...

Padahal, kehidupan rakyatnya tidak pasti

Rakyat selalu diminta sabar menanti...

"Sampai kapan?" tanya Si Siti...

Sampai matahari tak lagi mampu memberikan senyum sinarnya pada bunga melati? Ntahlah...

Tapi inilah kota mati, kota yang hanya disesaki janji2, bukan bukti...


Di Kota mati, forum-forum intelektual bertaburan dengan diskusi...

Gedung-gedung, jalan-jalan perkotaan dipoles asri...

Tapi tetap saja tiada arti...

karena walau hanya demi sesuap nasi...

Rakyat jelata masih harus bertaburan mencari panti...


Ya, inilah kota mati

Pemerintah sukanya mendikte...

Rakyatnya terlalu baik hati,

Sehingga tak pernah berkehendak mencipta revolusi...


Kangenan + My House, 28/2/2011

Pukul 22.59 WIB

Maling Ayam, Kasihan Dikau...

Oleh Moh. Ilyas


"Maling... maling... maling..." teriak beberapa warga yang sedang mengejar seorang maling di salah satu perkampungan warga, di Desa Kangenan, Gg I, Pamekasan.


Tak kurang dari dua menit, sekitar lima warga sudah berhasil meringkus maling, yang ternyata maling ayam itu. Ia digebukin, ditendang, ditempeleng, dan dihajar habis-habisan. Setiap warga yang datang, jika tidak langsung menghajar, pasti membentak dan menghujatnya. "Pate' reyah. Kamu pasti sering mencuri di sini ya?" gertak seorang pria tinggi yang datang. "Nggak Pak, cuma sekarang," jawab maling berbadan kurus itu dengan kondisi gemetar.


Kekerasan yang bertubi-tubi itu, sungguh tak dapat ku terima. Meski peristiwa ini terjadi sudah sekitar pukul 02.00 dini hari dengan kondisiku yang agak mengantuk, tapi nurani kemanusiaanku masih sadar menolak kekerasan semacam itu. Di saat sang "aktor" itu sudah tak berdaya dan hanya pasrah menerima cacian, hinaan, dan bahkan pukulan, semestinya tak perlu ada kekerasan.

Akan tetapi, warga yang menghajar barangkali tidak serta merta langsung bisa disalahkan. Tindakan mereka didasarkan pada kekesalan dan kekecewaan, karena mungkin saja, sebagian dari mereka juga korban sebelum-sebelumnya.

Dilema, ya aku memang dilema menerjemahkan persoalan ini. Aku seperti bergeming untuk menentukan siapa dalang peristiwa ini. "Kemiskinan," pikirku spontan.

Ya, kemiskinan. Pemuda malang itu berani dan nekad untuk mencuri meski hanya empat ekor ayam karena kemiskinan yang menderanya. Kemiskinan menghilangkan rasa takut seseorang untuk berbuat yang dilarang. Kemiskinan juga membangunkan keberanian seseorang untuk "menjadi hina" di hadapan publik, bahkan kemiskinan telah menjadi kursi empuk menuju tirani.

Itulah sebabnya Nabi kemudian mengungkapkan bahwa Kefakiran (baca juga kemiskinan) itu mendekatkan seseorang pada kekafiran. Orang bisa semena-mena, menjadi koruptor, menjadi penggemplang pajak, menjadi mafia, menjadi penguasa diktator, dan pejabat korup, karena kemiskinan yang mereka rasakan. Dalam hal ini, batasan miskin menjadi buram, sehingga nyaris tak pernah ada persepsi yang sama mengenai makna sebenarnya dari kata "miskin".

Ada banyak orang yang, sebenarnya, dalam ukuran pikiran orang lain cukup, tetapi bagi mereka justru dianggap kurang. Begitu pun seterusnya. Pada akhirnya, kemiskinan ini akan hilang dengan qanaah (rasa menerima). Rasa itulah yang nantinya menghegemoni seseorang untuk tidak menjadi perampok, penjambret, pencuri, dan koruptor.

Malam ini memanglah pertama kali bagiku bermalam di kawasan Kota Pamekasan setelah hampir dua tahun aku hijrah dan berkarir di Jakarta. Meski ini malam pertama, namun ditangkapnya maling tadi telah menyadarkanku dalam pertanyaan-pertanyaan. Mengapa orang bisa mencuri? Apa ia tak takut dihakimi massa hingga tewas atau babak belur? Mengapa ia begitu berani? Mengapa warga juga menggebukin?

Kangenan, Pamekasan, 28/2/2011

Pukul 02.45 WIB

L a n g l a n g B u a n a

Oleh Moh. Ilyas

Jumat dua pekan lalu, saya masih merekam aktivitas keseharianku di Jakarta, sebuah kota yang dijadikan pusat "kehidupan" masyarakat Indonesia. Saat itu, aku melenggang ke Senayan, tempat ngantornya para wakil rakyat guna "berdiskusi" dengan salah satu senior yang kebetulan membutuhkan akses media. Di Jakarta, berbagai kegiatan, terstruktur maupun tak terstruktur aku lakukan sebagai rentetan dari jalan panjang kisah hidupku.

Dua hari kemudian, yakni pada Senin (15/2), aku memutuskan untuk beranjak ke Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Mataram dan Lombok Barat. Alasanku pergi karena sebuah training yang memang sudah sejak lama ingin aku ikuti. Dalam training jenjang "Doktoral" organisasi tersebut, banyak hal telah ku lalui, mulai dari tempaan perkawanan, perkaderan, problem solving, hingga penjelajahan makna hidup secara konsep maupun praktis. Secara praktis misalnya, travelling ke Pantai Senggigi, Lombok Barat atau yang biasa disingkat Lobar.

Seminggu ku lalui di Lobar, training pun berakhir dengan cukup memuaskan. Setelah kegiatan yang digelar di SKB Lobar itu, aku bersama enam kawan masih menyempatkan keliling Mataram-Lombok, hingga Pantai Kute, dengan pengetahuan baru tentang cerita Putri Mandalika di Pantai Kute pada 24/2/2011, dan tradisi perang warga di beberapa titik sepanjang jalan menuju Pantai Kute, Lombok Tengah atau yang biasa disebut Loteng.

Esoknya aku sudah tiba di Pulau Dewata Bali. Masih bersama enam kawanku seharian ku "berdiskusi" dengan alam dan pemandangan di Bali. Hanya dengan sebuah mobil APV aku bisa menikmati Bali sejak matahari terbit hingga terbenam, mulai dari Pelabuhan, Goa Lawah Kabupaten Klungkung, Kampus Udayana I dan II, Sekretariat HMI, Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pantai New Kute (Dream Land), Pantai Jimbaran, hingga Pantai Kute yang populer dengan turis dan peristiwa dahsyatnya bom Bali II.

Sejarah banyak mencatat di masa lalu, banyak sekali orang yang berpetualang dari satu daerah ke daerah lain, bahkan dari satu negara ke negara lain. Selain mencari guru, kaum cerdik cendekia kala itu juga menambah pengalaman dan suasana baru untuk menemukan sesuatu yang baru. Ada pula yang melanglang buana dengan tujuan meneliti masalah ketidakadilan di negara yang dikunjungi. Praktik ini misalnya pernah dilakukan Ernesto Guevara atau akrab dengan sebutan Che Guevara. Ia melanglang Buana dari Rosario Argentina, negara tempat kelahirannya, ke Kuba, Amerika Latin yang berhasil “ditaklukannya” melalui pintu revolusi bersama Fidel Castro.

Namun perjalananku itu belum seperti Che yang langsung menghidupkan revolusi, aku masih sebatas mengenal dan sesekali belajar mengoreksi dan menguak kesejarahan, termasuk dinamika dua daerah itu. Di NTB misalnya kontroversialnya rencana pembangunan Islamic Center di tengah pembangunan fisik yang belum terpenuhi, seperti jalan rusak di Kabupaten Dompu atau persoalan lokalisasi prostitusi seperti diceritakan kawan-kawan asal Bima.

Sementara di Denpasar Bali misalnya, adanya praktik "mesum" yang sudah dianggap sebuah kewajaran di salah satu kawasan (baca: desa) Sasetan sehari menjelang Hari Nyepi. Praktik tersebut berupa ciuman massal (tanpa status apapun) sekitar 5 jam. Praktik itu dipercaya sebagai pintu penyucian seorang penganut agama Hindu memasuki Hari Nyepi.

Apapun pengetahuan yang didapat di "perantauan" ini aku anggap sebagai sebuah kemestian dan kesenantiasaan. Sebab, perjalanan panjang menjadi tak berarti jika para musafir itu tak dapat mengumpulkan sederet pengetahuan yang bisa dianalisis, bisa didiagnosis, bahkan bisa dicarikan jalan keluarnya. Kita juga dapat mengambil hikmah dan referensi-referensi hidup secara lebih lengkap untuk menjadi manusia paripurna (insan kamil).

My home, 3 days after Bali, 2/26

Pukul 12.26 WIB