Bila waktunya tiba…
Kan datang jawaban-jawaban dari segenap tanya,
Kan tampak pelita-pelita nan mengungkap misteri kegelapan.
Tapi, itu bukanlah akhir,
Sekali lagi, bukanlah akhir…
Waktu baru telah menunggu
Beriring kisah dengan seberkas tanya baru
Tidak usah kalut,
Jawaban baru pun berdiri tegap di balik tanya itu,
Tinggal tafsir-tafsirmu yang jadi penentu,
Tetapi, itu pun bukanlah akhir…
Lembaran-lembaran baru kan senantiasa berkelindan
Mengiringi rotasi gerak sang waktu
Demi kehidupan yang kaya arti…
Begitulah, kisah waktu mengalir
Hingga pada saatnya nanti,
tak ada lagi yang namanya ‘waktu’.
Saharjo Lontar, South Jakarta, 23/11 ‘09
Pukul 03.51 WIB
Sunday, August 1, 2010
Thursday, July 22, 2010
Hari Terakhir di Bulan Pertama
Oleh Moh Ilyas
Barangkali jika sekedar membaca judul tulisan ini, tak akan terbesit arah pikiran yang menggambarkan perjalanan sebuah hari yang tak terhenti oleh kerumunan waktu dalam proses awal liputanku. Judul ini sengaja aku buat dengan sebuah alasan, hari ini adalah hari terakhir di bulan pertama pergumulan diriku dalam dunia pers di kota Depok.
Masih cukup lekat tanggal dan pengalaman meliput pada bulan ini. Senin (11/1) aku menginjakkan kaki perdana dalam liputan di Kota Depok, tapi saat itu belum untuk dimuat. Meski begitu, aku belajar mengenali diri dan lingkungan di sana. Aku mengikuti kawan-kawan jurnalis di sana, seperti Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, okezone.com, Duta Masyarakat, Indo Pos dan Pelita. Mereka cukup ramah bertegur sapa denganku, yang notabene sebagai orang baru bagi mereka.
Seminggu ku jalani dengan gumpalan asa di benakku. Namun, ketika ku intip tulisanku tak pernah ada di Harian Republika ataupun di Republika Online (rol) membuat ghirahku “sedikit turun tangga”. Memang, waktu itu sebenarnya bukan untuk diterbitkan, tapi hanya untuk belajar menyesuaikan diri dan membaca “dunia Depok”.
Baru pada Senin (18/1), dua tulisanku resmi dimuat di Harian Republika, halaman 16. Itu pun, salah satunya langsung jadi headline dengan judul ”Samling Lebih Hemat Waktu.” Sungguh suatu kebahagiaan yang tak bisa ku tahan.
***
Udah dulu, ne ada anak Pamekasan mau ke tempatku, dah ada di depan RS. Budhi Jaya, Saharjo. Ne sakedar cerita ya, tapi riil-loh...
Saharjo Lontar, 31/1/2010
Pukul, 20.39 WIB
Barangkali jika sekedar membaca judul tulisan ini, tak akan terbesit arah pikiran yang menggambarkan perjalanan sebuah hari yang tak terhenti oleh kerumunan waktu dalam proses awal liputanku. Judul ini sengaja aku buat dengan sebuah alasan, hari ini adalah hari terakhir di bulan pertama pergumulan diriku dalam dunia pers di kota Depok.
Masih cukup lekat tanggal dan pengalaman meliput pada bulan ini. Senin (11/1) aku menginjakkan kaki perdana dalam liputan di Kota Depok, tapi saat itu belum untuk dimuat. Meski begitu, aku belajar mengenali diri dan lingkungan di sana. Aku mengikuti kawan-kawan jurnalis di sana, seperti Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, okezone.com, Duta Masyarakat, Indo Pos dan Pelita. Mereka cukup ramah bertegur sapa denganku, yang notabene sebagai orang baru bagi mereka.
Seminggu ku jalani dengan gumpalan asa di benakku. Namun, ketika ku intip tulisanku tak pernah ada di Harian Republika ataupun di Republika Online (rol) membuat ghirahku “sedikit turun tangga”. Memang, waktu itu sebenarnya bukan untuk diterbitkan, tapi hanya untuk belajar menyesuaikan diri dan membaca “dunia Depok”.
Baru pada Senin (18/1), dua tulisanku resmi dimuat di Harian Republika, halaman 16. Itu pun, salah satunya langsung jadi headline dengan judul ”Samling Lebih Hemat Waktu.” Sungguh suatu kebahagiaan yang tak bisa ku tahan.
***
Udah dulu, ne ada anak Pamekasan mau ke tempatku, dah ada di depan RS. Budhi Jaya, Saharjo. Ne sakedar cerita ya, tapi riil-loh...
Saharjo Lontar, 31/1/2010
Pukul, 20.39 WIB
Sejenak Share dengan Wartawan Baru
Senin (4/1/2010) adalah awal petualangku di dunia pers. Dunia, yang sebenarnya tidak begitu asing sewaktu aku masih melenggang di daerah asalku. tapi, tidak demikian halnya dengan ngeliput di Jakarta.
Sengatan panasnya mentari, tingginya tingkat polusi, dan macetnya jalan-jalan utama perkotaan menutup ’aura’ keindahan yang menyelimuti kota Jakarta. “Tak tampak keindahan itu,” pikirku seolah menafikan keindahan yang menghiasi gedung-gedung di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman, dalam perjalanan pulang menuju Bendungan Hilir melewati Pasar Tanah Abang.
Tapi, apa boleh buat, dunia pers telah sengaja ku genggam. Napak tilaspun tak mungkin lagi kuhindari. Bagaimanapun, pengalaman ini kurasakan beriringan dengan dentingan suara pekat nurani untuk terus menggayuh cita, mendapatkan informasi fakta yang mendalam, dan mengungkap keresahan-keresahan sosial melalui pintu ’tulisan’ seorang wartawan.
Sekali aku berlayar dalam perahu cita-cita, sejuta kenangan indah dengan mutiara-mutiara yang tersurat di kedalaman lautan asa dapat ku raih. Sekali aku bertamasya ke arah terbenamnya mentari, tidak hanya seberkas cahaya yang ku dapat, tapi jutaan sinar bersama kemilaunya cahaya kesuksesan yang akan mengisi sisa-sisa hidupku.
Aku sadar, jembatan itu cukup panjang. Tetapi, aku juga memahami bahwa titian kaki kesungguhan serta ghirah akan mempercepat karir perjalanan hidup ini.
Pengalaman pertama sebagai wartawan Harian Umum Republika ini mulanya memang membuatku kaget, sebab aku langsung ditugaskan di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Bertugas di tempat itu, tak ada lagi yang kupikirkan, selain perasaan takut dan ngeri dengan bulu roma yang merinding. ”Ya, bagaimana tidak? Jika aku diperlihatkan dengan mayat-mayat yang sudah ditutupi kain di kamar pendingin.”
Tapi, beruntunglah... Hari pertama ini tak sampai menjeratku dalam ketakutan itu, sebab, tidak ada jenazah baru pada hari itu. Meski akhirnya aku memberitakan Gus Dur sebagai jenazah terakhir di RSCM hingga saat itu, aku sempatkan juga meliput aksi anak-anak Sulawesi Selatan di bundaran Hotel Indonesia (HI) tentang kemelut Century yang tak kunjung usai.
Ini saja, catatan share awal napak tilas perjalananku dalam dunia pers di ibu kota. Sekuntum hikmah dan kesuksesan semoga selalu menjadi partner lembaran hidupku.
Semoga...!
Bakornas Lapmi, Saharjo, 10/1/’10
Pukul, 01.41 WIB
Sengatan panasnya mentari, tingginya tingkat polusi, dan macetnya jalan-jalan utama perkotaan menutup ’aura’ keindahan yang menyelimuti kota Jakarta. “Tak tampak keindahan itu,” pikirku seolah menafikan keindahan yang menghiasi gedung-gedung di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman, dalam perjalanan pulang menuju Bendungan Hilir melewati Pasar Tanah Abang.
Tapi, apa boleh buat, dunia pers telah sengaja ku genggam. Napak tilaspun tak mungkin lagi kuhindari. Bagaimanapun, pengalaman ini kurasakan beriringan dengan dentingan suara pekat nurani untuk terus menggayuh cita, mendapatkan informasi fakta yang mendalam, dan mengungkap keresahan-keresahan sosial melalui pintu ’tulisan’ seorang wartawan.
Sekali aku berlayar dalam perahu cita-cita, sejuta kenangan indah dengan mutiara-mutiara yang tersurat di kedalaman lautan asa dapat ku raih. Sekali aku bertamasya ke arah terbenamnya mentari, tidak hanya seberkas cahaya yang ku dapat, tapi jutaan sinar bersama kemilaunya cahaya kesuksesan yang akan mengisi sisa-sisa hidupku.
Aku sadar, jembatan itu cukup panjang. Tetapi, aku juga memahami bahwa titian kaki kesungguhan serta ghirah akan mempercepat karir perjalanan hidup ini.
Pengalaman pertama sebagai wartawan Harian Umum Republika ini mulanya memang membuatku kaget, sebab aku langsung ditugaskan di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Bertugas di tempat itu, tak ada lagi yang kupikirkan, selain perasaan takut dan ngeri dengan bulu roma yang merinding. ”Ya, bagaimana tidak? Jika aku diperlihatkan dengan mayat-mayat yang sudah ditutupi kain di kamar pendingin.”
Tapi, beruntunglah... Hari pertama ini tak sampai menjeratku dalam ketakutan itu, sebab, tidak ada jenazah baru pada hari itu. Meski akhirnya aku memberitakan Gus Dur sebagai jenazah terakhir di RSCM hingga saat itu, aku sempatkan juga meliput aksi anak-anak Sulawesi Selatan di bundaran Hotel Indonesia (HI) tentang kemelut Century yang tak kunjung usai.
Ini saja, catatan share awal napak tilas perjalananku dalam dunia pers di ibu kota. Sekuntum hikmah dan kesuksesan semoga selalu menjadi partner lembaran hidupku.
Semoga...!
Bakornas Lapmi, Saharjo, 10/1/’10
Pukul, 01.41 WIB
Subscribe to:
Posts (Atom)