Oleh Moh. Ilyas
Maksud dari judul ini barangkali menggelitik sekaligus membuat pembaca bertanya-tanya. Tapi, jangan salah persepsi dan punya anggapan bahwa penulis sedang bermain-main dengan judul ini. Penulis sama sekali tidak sedang dalam posisi demikian. Penulis hanya ingin belajar membaca sesuatu yang tak terbaca.
Dalam beberapa literatur teologi (Kitab Tauhid) dijelaskan bahwa setiap benda (jirm) memiliki tempat. Ia bisa bergerak ke manapun ia suka, baik karena kekuatan dari dalam dirinya maupun dari luar. Ia juga bisa dibaca, dimengerti, bahkan dipahami. Dengan begitu, ia pasti memiliki nama, walaupun nama itu baru muncul setelah beberapa orang menciptakannya sendiri.
Untuk sekadar menyebut contoh adalah mobil. Di masa Nabi, barangkali kendaraan jenis ini belumlah ada, sehingga nama “Mobil” saat itu tidak dikonotasikan sebagai kendaraan yang kita pahami hari ini. Saat itu untuk merujuk kendaraan, digunakanlah sebutan keledai, unta, dan sebagainya.
Bagaimana dengan hal-hal ghaib? Masihkah ia bisa dibaca, sementara kita tidak pernah melihat apalagi memahaminya. Ia memang memiliki nama, tapi laksana tak bernama, sebab kita tak pernah tahu kebenarannya secara aqli dan rasionalitas empirik. Kita mungkin bisa membacanya secara naluri dan insting, tetapi ia pun takkan pernah terbaca. Wal-hasil, sesuatu yang kita anggap “aksi membaca”, sebenarnya hanyalah tindakan memrediksi.
Untuk sekadar menyebut contoh seperti Iblis, Hari Akhirat, Malaikat, mati, dan bahkan Tuhan. Semua ini memiliki nama, namun tak pernah terbaca. Jika kita membaca tentang kematian, dengan tetek bengek gambaran-gambarannya, bacaan itu hanya menjadi prediksi – kalau bukan imajinasi. Membaca sesuatu yang tak pernah kita jumpai mengantarkan pemahaman kita akan relativisme berpikir. Bisa saja, apa yang tergambar dalam benak kita benar, bisa pula tidak.
Begitu pun dengan Tuhan. Jika kita muslim, Tuhan kita disebut Allah, walaupun nama “Allah” sendiri masih kontroversial antara yang menyebutnya sebagai nama dan sebagai zat. Kalaupun ia nama, apakah kemudian kita bisa membacanya. Membaca Allah, seperti tidak membaca apa-apa. Sebab, Allah memang takkan pernah terbaca. Jika ia terbaca, sudah barang tentu ia bukanlah Allah. Jadi jika kita mengaku mengenalnya, maka sebenarnya kita sedang berbohong dengan pengakuan itu, sebab, yang mengenal Allah, hanyalah Allah sendiri. Prinsip ini juga pernah dikemukakan seorang sufi dan teolog Ibn al-Araby.
Namun yang pasti, setiap sesuatu selain Allah disebut makhluk. Setiap makhluk disebut alam. Setiap alam memiliki posisi dan tempat sendiri-sendiri. Meskipun begitu, tak semua makhluk itu terbaca.
Lantas bagaimana kita memahaminya? Bacalah sebagaimana Tuhan memerintahkanmu. Lalu bagaimana cara membacanya? Gunakanlah ilmu pengetahuan, sebab hanya itulah yang bisa memerdekakan manusia dan mengubah khayalan-khayalan akan sesuatu yang dipikirkan manusia. Kendatipun demikian, hasil akhir ilmu pengetahuan, belum tentu hasilnya kebenaran dari hasil bacaan, karena bacaan yang sebenarnya terjadi, jika kita segenap panca indra, hati, dan sanubari menyatu untuk mengenalnya. Wallahua’lam bisshawab.
Kantor Republika Biro Jabar,
Jln RE Martadinata 126, Bandung,
15 Dzulhijjah 1431 H/21 Nopember 2010 M
Pukul 22.29 WIB
Sunday, November 21, 2010
Pertaruhan HMI di Abad Informasi
Oleh: Moh. Ilyas*
Abad 21, abad penentuan. Begitulah kiranya kita memaknai abad ini. Dikatakan penentuan, karena fenomena-fenomena hidup yang sebelumnya 'asing dan tabu', saat ini dua kata itu nyaris hilang total. Tak ada lagi bahasa tabu. Ya, inilah abad keterbukaan itu.
Selain itu disebut penentuan, karena individu-individu yang ada di jagad ini seolah sudah ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan informasi. Semua masyarakat yang bercokol sudah melek informasi, sehingga mindset mereka pun menjadi information oriented.
Inilah era yang menandai lahirnya global village (desa global) yang kemudian mengantarkan istilah globalisasi. Era global ini adalah proses masuknya sebuah negara ke ruang lingkup dunia, sehingga sekat-sekat atau tapal batas antar negara akan semakin kabur. Di sinilah asal muassal era kemajuan informasi itu.
Kemajuan teknologi informasi ini ibarat ledakan bom yang siap meluluhlantakkan peradaban manusia dan mengarahkannya atau meminjam bahasa Collin Cherry, seorang ilmuwan kognitif Inggris (1914–1979) dengan istilah explosion (letusan). Istilah ini muncul karena kuatnya pengaruh informasi terhadap pembentukan dan perubahan karakter manusia.
Menurutnya, di antara dampaknya adalah semakin tingginya peradaban atau justru hancurnya peradaban. Ia juga menandai lahirnya masyarakat modern sebagai dampak industrialisasi dan teknologisasi yang merupakan masyarakat dengan struktur kehidupan yang dinamis-kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan demi kepentingan manusia dalam berbagai sektor kehidupan.
Tak ketinggalan juga HMI. Organisasi mahasiswa di usianya yang ke 63 tahun ini terbawa juga oleh derasnya informasi. Hal ini tidak lepas dari kian canggihnya komunikasi sebagai bagian dari dampak kuatnya informasi itu sendiri.
Dengan kata lain, HMI sebagai social sphere (ruang sosial) tidak mungkin memisahkan diri dari sosialnya. Bagi HMI, lepas dari nilai-nilai sosial adalah suatu kemuspraan yang justu menghancurkan dirinya sendiri. Barangkali di sinilah relevansi pandangan seorang pakar komunikasi, B. Aubrey Fisher yang mengatakan, "Tidak ada persoalan sosial yang tidak melibatkan komunikasi."
Dari sini pula kemudian terlukiskan bahwa komunikasi merupakan sesuatu yang ubiquitous atau serba hadir. Artinya, di wilayah sosial manapun komunikasi senantiasa diperlukan, termasuk juga di HMI.
Pertaruhan HMI
Tentu saja keterlibatan HMI melalui diskursus komunikasi dan informasi dalam konteks sosialnya ini bukan tanpa beban. Di pundaknya terdapat ribuan beban yang mesti dipikul. Itu semua, jika organisasi besutan Lafran Pane ini tidak ingin tenggelam dalam lautan ketidakpastian, bahkan kebinasaan.
Beban-beban itu merupakan konsekuensi logis dari kian melejitnya teknologi informasi. Untuk sekadar menyebut contoh dari beban itu ialah beban sejarah. HMI tak bisa lepas dari dinamika sejarah yang dilaluinya. Sejarah itu, tentu akan menjadi beban bagi HMI hari ini, jika tak dapat melampaui sejarahnya sendiri. Artinya, tempo dulu, saat HMI baru didirikan atau saat menginjak masa remaja pada tahun 60 sampai 80-an, ia mampu menemukan sekaligus menciptakan masa kejayaannya.
Saat itu, HMI lahir sebagai punggawa besar yang mengawal bangsa ini, mulai dari hantaman kolonial Belanda hingga turut berpartisipasi dalam pembangunan. Bahkan bisa dikatakan, jargon 'Islam Yes, Partai Islam No' yang dikemukakan Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish Madjid sebagai tokoh HMI) juga mendesakralisasi agama yang sering dicampuradukkan dengan partai politik. Dalam konteks ini, ia sepertinya ingin menghilangkan politisasi agama.
Tak ayal, kala itu kejayaan HMI cenderung lahir dari pemikiran - yang jauh dari kemajuan teknologi. Belum ada yang namanya facebook, twitter, friendster, dan bahkan portal-portal berita online di negeri ini. Tetapi, mengapa justru kejayaan bisa digapai jauh lebih besar dibanding hari ini?
Padahal jika dibandingkan, kekayaan informasi yang begitu dahsyat, khazanah pengetahuan, dan hasil-hasil risat dunia saat ini terhampar luas di dunia maya. Tak perlu kita ke USA untuk menyaksikan aktivitas Presiden Obama pada saat berlangsung. Tak perlu juga kita ke Iran untuk mengetahui pidato-pidato perlawanan dan keberanian Ahmadinejad dalam mengemukakan perlawanan terhadap Barat pada saat yang bersamaan.
Kendati demikian, kita tidak bisa menyalahkan adanya teknologi informasi. Menolak ataupun menggugatnya juga sudah bukan pilihan yang tepat dan tak ada artinya dilakukan. Mungkin lebih tepat kita mengikuti pepatah Cina, "Lebih baik menyalakan satu lilin dari pada mengutuk kegelapan."
Alternatif yang bisa ditempuh HMI bukanlah melawan arus teknologi informasi. Tetapi, kita bisa memanfaatkannya sebagai new power (kekuatan baru) untuk me-redesign kejayaan HMI. Dan, sebenarnya untuk menciptakan power, teknologi informasi inilah tempatnya.
Tidak salah jika kemudian Ziauddin Sardar, menegaskan bahwa informasi merupakan kekuasaan. Tanpa informasi seseorang tidak memiliki kekuasaan. Menurutnya, jika informasi dibolehkan mengalir secara bebas dalam masyarakat, maka ia akan memberikan jalan ke arah kekuasaan kepada masyarakat yang terbelakang serta akan mencegah konsentrasi kekuasaan pada segelintir orang.
Jika pertanyaan yang kita ajukan, mengapa di era yang sudah serba canggih ini justru HMI seperti kalut dalam kejumudan? atau pertanyaan lainnya, mengapa HMI tak dapat melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Cak Nur, Ahmad Wahib, Dawam Raharjo, Mukti Ali, Azzumardi Azyra, dan Amien Rais dalam bidang pemikiran Islam saat ini? Apakah saat ini wacana intelektualisme sudah tidak lagi menarik di kalangan kader? Apakah kecanggihan informasi saat ini justru menjungkir-balikkan kader HMI itu sendiri?
Inilah kondisi yang mestinya dikaji dan dijawab dalam rumpun komunitas Hijau-Hitam saat ini. Tampaknya ada yang salah dengan cara kader HMI menyambut dan bersosialisasi dengan kemajuan itu.
HMI bisa dikatakan terjebak pada romantisme dan budaya instan yang diusung kemajuan teknologi. Akibatnya, Intellectual Sphere (ruang intelektual), yang tempo dulu hidup di HMI, hari ini sudah sangat jarang didapat. Saat ini sulit ditemukan model-model forum diskusi seperti 'limited Groupnya' Ahmad Wahib, Johan Effendi, dan Dawam Raharjo, atau 'KKA'-nya Cak Nur di Paramadina.
Hari ini forum diskusi itu sudah beralih ke dunia maya, berganti dengan bahasa chatting. Keuletan membaca, mengkaji, dan meneliti telah tergantikan oleh fenomena chatting, browsing, dan downloading. Ghirah inteletual pun memudar dengan sendirinya.
Tempo dulu, untuk menghasilkan karya penelitian diperlukan kajian yang mendalam dari kompilasi khazanah-khazanah ilmu pengetahuan. Tapi saat ini, sangat instan. Hanya dengan mengklik search engine di internet, kita sudah tinggal memilih dan mendownload-nya. Kondisi inilah yang menjadi tantangan bagi HMI di abad melek informasi ini. Jika tidak, kejayaan HMI hanya akan menjadi sejarah yang layak dimuseumkan atau ia hanya akan menjadi menara gading yang takkan pernah tersentuh oleh kader-kader HMI itu sendiri.
* Penulis, Sekjen Bakornas LAPMI PB HMI
Abad 21, abad penentuan. Begitulah kiranya kita memaknai abad ini. Dikatakan penentuan, karena fenomena-fenomena hidup yang sebelumnya 'asing dan tabu', saat ini dua kata itu nyaris hilang total. Tak ada lagi bahasa tabu. Ya, inilah abad keterbukaan itu.
Selain itu disebut penentuan, karena individu-individu yang ada di jagad ini seolah sudah ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan informasi. Semua masyarakat yang bercokol sudah melek informasi, sehingga mindset mereka pun menjadi information oriented.
Inilah era yang menandai lahirnya global village (desa global) yang kemudian mengantarkan istilah globalisasi. Era global ini adalah proses masuknya sebuah negara ke ruang lingkup dunia, sehingga sekat-sekat atau tapal batas antar negara akan semakin kabur. Di sinilah asal muassal era kemajuan informasi itu.
Kemajuan teknologi informasi ini ibarat ledakan bom yang siap meluluhlantakkan peradaban manusia dan mengarahkannya atau meminjam bahasa Collin Cherry, seorang ilmuwan kognitif Inggris (1914–1979) dengan istilah explosion (letusan). Istilah ini muncul karena kuatnya pengaruh informasi terhadap pembentukan dan perubahan karakter manusia.
Menurutnya, di antara dampaknya adalah semakin tingginya peradaban atau justru hancurnya peradaban. Ia juga menandai lahirnya masyarakat modern sebagai dampak industrialisasi dan teknologisasi yang merupakan masyarakat dengan struktur kehidupan yang dinamis-kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan demi kepentingan manusia dalam berbagai sektor kehidupan.
Tak ketinggalan juga HMI. Organisasi mahasiswa di usianya yang ke 63 tahun ini terbawa juga oleh derasnya informasi. Hal ini tidak lepas dari kian canggihnya komunikasi sebagai bagian dari dampak kuatnya informasi itu sendiri.
Dengan kata lain, HMI sebagai social sphere (ruang sosial) tidak mungkin memisahkan diri dari sosialnya. Bagi HMI, lepas dari nilai-nilai sosial adalah suatu kemuspraan yang justu menghancurkan dirinya sendiri. Barangkali di sinilah relevansi pandangan seorang pakar komunikasi, B. Aubrey Fisher yang mengatakan, "Tidak ada persoalan sosial yang tidak melibatkan komunikasi."
Dari sini pula kemudian terlukiskan bahwa komunikasi merupakan sesuatu yang ubiquitous atau serba hadir. Artinya, di wilayah sosial manapun komunikasi senantiasa diperlukan, termasuk juga di HMI.
Pertaruhan HMI
Tentu saja keterlibatan HMI melalui diskursus komunikasi dan informasi dalam konteks sosialnya ini bukan tanpa beban. Di pundaknya terdapat ribuan beban yang mesti dipikul. Itu semua, jika organisasi besutan Lafran Pane ini tidak ingin tenggelam dalam lautan ketidakpastian, bahkan kebinasaan.
Beban-beban itu merupakan konsekuensi logis dari kian melejitnya teknologi informasi. Untuk sekadar menyebut contoh dari beban itu ialah beban sejarah. HMI tak bisa lepas dari dinamika sejarah yang dilaluinya. Sejarah itu, tentu akan menjadi beban bagi HMI hari ini, jika tak dapat melampaui sejarahnya sendiri. Artinya, tempo dulu, saat HMI baru didirikan atau saat menginjak masa remaja pada tahun 60 sampai 80-an, ia mampu menemukan sekaligus menciptakan masa kejayaannya.
Saat itu, HMI lahir sebagai punggawa besar yang mengawal bangsa ini, mulai dari hantaman kolonial Belanda hingga turut berpartisipasi dalam pembangunan. Bahkan bisa dikatakan, jargon 'Islam Yes, Partai Islam No' yang dikemukakan Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish Madjid sebagai tokoh HMI) juga mendesakralisasi agama yang sering dicampuradukkan dengan partai politik. Dalam konteks ini, ia sepertinya ingin menghilangkan politisasi agama.
Tak ayal, kala itu kejayaan HMI cenderung lahir dari pemikiran - yang jauh dari kemajuan teknologi. Belum ada yang namanya facebook, twitter, friendster, dan bahkan portal-portal berita online di negeri ini. Tetapi, mengapa justru kejayaan bisa digapai jauh lebih besar dibanding hari ini?
Padahal jika dibandingkan, kekayaan informasi yang begitu dahsyat, khazanah pengetahuan, dan hasil-hasil risat dunia saat ini terhampar luas di dunia maya. Tak perlu kita ke USA untuk menyaksikan aktivitas Presiden Obama pada saat berlangsung. Tak perlu juga kita ke Iran untuk mengetahui pidato-pidato perlawanan dan keberanian Ahmadinejad dalam mengemukakan perlawanan terhadap Barat pada saat yang bersamaan.
Kendati demikian, kita tidak bisa menyalahkan adanya teknologi informasi. Menolak ataupun menggugatnya juga sudah bukan pilihan yang tepat dan tak ada artinya dilakukan. Mungkin lebih tepat kita mengikuti pepatah Cina, "Lebih baik menyalakan satu lilin dari pada mengutuk kegelapan."
Alternatif yang bisa ditempuh HMI bukanlah melawan arus teknologi informasi. Tetapi, kita bisa memanfaatkannya sebagai new power (kekuatan baru) untuk me-redesign kejayaan HMI. Dan, sebenarnya untuk menciptakan power, teknologi informasi inilah tempatnya.
Tidak salah jika kemudian Ziauddin Sardar, menegaskan bahwa informasi merupakan kekuasaan. Tanpa informasi seseorang tidak memiliki kekuasaan. Menurutnya, jika informasi dibolehkan mengalir secara bebas dalam masyarakat, maka ia akan memberikan jalan ke arah kekuasaan kepada masyarakat yang terbelakang serta akan mencegah konsentrasi kekuasaan pada segelintir orang.
Jika pertanyaan yang kita ajukan, mengapa di era yang sudah serba canggih ini justru HMI seperti kalut dalam kejumudan? atau pertanyaan lainnya, mengapa HMI tak dapat melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Cak Nur, Ahmad Wahib, Dawam Raharjo, Mukti Ali, Azzumardi Azyra, dan Amien Rais dalam bidang pemikiran Islam saat ini? Apakah saat ini wacana intelektualisme sudah tidak lagi menarik di kalangan kader? Apakah kecanggihan informasi saat ini justru menjungkir-balikkan kader HMI itu sendiri?
Inilah kondisi yang mestinya dikaji dan dijawab dalam rumpun komunitas Hijau-Hitam saat ini. Tampaknya ada yang salah dengan cara kader HMI menyambut dan bersosialisasi dengan kemajuan itu.
HMI bisa dikatakan terjebak pada romantisme dan budaya instan yang diusung kemajuan teknologi. Akibatnya, Intellectual Sphere (ruang intelektual), yang tempo dulu hidup di HMI, hari ini sudah sangat jarang didapat. Saat ini sulit ditemukan model-model forum diskusi seperti 'limited Groupnya' Ahmad Wahib, Johan Effendi, dan Dawam Raharjo, atau 'KKA'-nya Cak Nur di Paramadina.
Hari ini forum diskusi itu sudah beralih ke dunia maya, berganti dengan bahasa chatting. Keuletan membaca, mengkaji, dan meneliti telah tergantikan oleh fenomena chatting, browsing, dan downloading. Ghirah inteletual pun memudar dengan sendirinya.
Tempo dulu, untuk menghasilkan karya penelitian diperlukan kajian yang mendalam dari kompilasi khazanah-khazanah ilmu pengetahuan. Tapi saat ini, sangat instan. Hanya dengan mengklik search engine di internet, kita sudah tinggal memilih dan mendownload-nya. Kondisi inilah yang menjadi tantangan bagi HMI di abad melek informasi ini. Jika tidak, kejayaan HMI hanya akan menjadi sejarah yang layak dimuseumkan atau ia hanya akan menjadi menara gading yang takkan pernah tersentuh oleh kader-kader HMI itu sendiri.
* Penulis, Sekjen Bakornas LAPMI PB HMI
Saturday, September 18, 2010
Kembali Pada (Ingatan) Masa Lalu
"Hendaklah seseorang melihat masa lalu untuk hari esok" (al-ayat)
Masa lalu, masa yang memiliki makna tersendiri dalam sejarah perjalanan panjang manusia. Ada yang merindukan, mengenang, atau yang sekadar berangan-angan. Ada pula yang segenap kehidupannya diikhtiarkan untuk 'tidak berbeda' dengan masa tempo dulu. Di sisi lain, ada pula yang tidak peduli dengan masa lalu dengan segala tetek bengek argumentasinya.
Tapi, sebenarnya tak ada masalah dengan semua itu. Sebab masing-masing individu memiliki 'ways' untuk merengkuh jalannya sendiri-sendiri.
Begitupun dengan petualangan hidupku. Hari ini, aku mengekspose sebuah tabligh akbar di Islamic Center Jakarta, di Koja. Berbagai tradisi keislaman ditampilkan, seperti pembacaan al-Qur'an secara Qiroah, pembacaan tahlil, hingga pembacaan sholawatun nabawiyah ataupun nasyidah islamiyah.
Dua shalawat atau nasyid Islami yang sempat aku dengar adalah dua sholawat yang tidak asing sama sekali di telingaku. Bahkan, aku masih menghafalnya, keduanya termaktub dalam dua bait berikut:
"Sholatun Minallah wa Alfa Salam
Ala al-Musthofa Ahmad Syarifil Maqom"
"Annabi Shollu Alaih, Sholawatullahi Alaihi
Wa Yanalu al-Barakah Kullu Man Sholla Alaihi"
Tentu saja karena hafalanku masih tak lekang dengan bait-bait itu, mampu merajut ingatanku kembali ke masa lalu, masa di mana aku ditempa dan digembleng dengan tradisi-tradisi agama yang kuat hingga kalimat-kalimat yang diidentikkan dengan Islam.
Aku kembali ingat sejarah hidupku di PP Miftahul Ulum Sumber Jati, tempat aku belajar agama di desaku, di PP Darul Ulum Banyuanyar, tempat aku nyantri selama tiga tahun, dan di PP Bustanul Ulum Mlokorejo, Jember, tempat aku mengabdi sebagai 'guru tugas' dari PP Darul Ulum itu.
Bagiku, mengingat itu semua menghadirkan arti tersendiri, baik sebagai kenangan sejarah hingga sebagai refleksi agar hari ini dan esok bisa lebih baik dari hari kemarin. Ini berangkat dari sebuah dawuh nabi, "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang-orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia telah merugi".
Islamic Center Jakarta, 8/8/'10
Pukul 11.33 WIB
Masa lalu, masa yang memiliki makna tersendiri dalam sejarah perjalanan panjang manusia. Ada yang merindukan, mengenang, atau yang sekadar berangan-angan. Ada pula yang segenap kehidupannya diikhtiarkan untuk 'tidak berbeda' dengan masa tempo dulu. Di sisi lain, ada pula yang tidak peduli dengan masa lalu dengan segala tetek bengek argumentasinya.
Tapi, sebenarnya tak ada masalah dengan semua itu. Sebab masing-masing individu memiliki 'ways' untuk merengkuh jalannya sendiri-sendiri.
Begitupun dengan petualangan hidupku. Hari ini, aku mengekspose sebuah tabligh akbar di Islamic Center Jakarta, di Koja. Berbagai tradisi keislaman ditampilkan, seperti pembacaan al-Qur'an secara Qiroah, pembacaan tahlil, hingga pembacaan sholawatun nabawiyah ataupun nasyidah islamiyah.
Dua shalawat atau nasyid Islami yang sempat aku dengar adalah dua sholawat yang tidak asing sama sekali di telingaku. Bahkan, aku masih menghafalnya, keduanya termaktub dalam dua bait berikut:
"Sholatun Minallah wa Alfa Salam
Ala al-Musthofa Ahmad Syarifil Maqom"
"Annabi Shollu Alaih, Sholawatullahi Alaihi
Wa Yanalu al-Barakah Kullu Man Sholla Alaihi"
Tentu saja karena hafalanku masih tak lekang dengan bait-bait itu, mampu merajut ingatanku kembali ke masa lalu, masa di mana aku ditempa dan digembleng dengan tradisi-tradisi agama yang kuat hingga kalimat-kalimat yang diidentikkan dengan Islam.
Aku kembali ingat sejarah hidupku di PP Miftahul Ulum Sumber Jati, tempat aku belajar agama di desaku, di PP Darul Ulum Banyuanyar, tempat aku nyantri selama tiga tahun, dan di PP Bustanul Ulum Mlokorejo, Jember, tempat aku mengabdi sebagai 'guru tugas' dari PP Darul Ulum itu.
Bagiku, mengingat itu semua menghadirkan arti tersendiri, baik sebagai kenangan sejarah hingga sebagai refleksi agar hari ini dan esok bisa lebih baik dari hari kemarin. Ini berangkat dari sebuah dawuh nabi, "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang-orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia telah merugi".
Islamic Center Jakarta, 8/8/'10
Pukul 11.33 WIB
Subscribe to:
Posts (Atom)