Welcome to Ilyas' Site

Friday, October 24, 2014

UJIAN HIDUP











Bila semua niat tercapai,
Semua impian sampai,
Dan semua kenikmatan telah digapai.
Lalu apa lagi yang masih kau pikirkan? Bukankah kau sudah bahagia?

Betul. Kita mungkin bahagia, saat semua itu terjadi.
Tapi hidup, kadang tak sesederhana itu.
Hidup itu misteri.
Ia bisa berjalan, tanpa kita mengerti ke mana arah yang hendak dituju.
Tanpa kita bisa prediksi, bagaimana ujung petualangannya.

Di sanalah kan tercipta perubahan.
Kenikmatan tiba-tiba berbuntut kesedihan.
Impian seolah kembali tenggelam.
Kebahagiaan pun bak sirna diterpa badai.
Kenikmatan seakan tinggal kenangan.
Berlalu, tanpa dimengerti.

Itulah jalan manusia.
Jalan yang berliku, dan kadang juga berduri.
Jalan terjal, yang kadang, tak bisa dipahami akal sehat,
Jalan panjang yang sungguh melelahkan.

Tapi,
Sesungguhnya, tak perlu ada sesal mendalam kala melintasinya,
Tak perlu pula ada tangis, atau sedih yang mengalahkan semuanya.
Tak perlu ada rasa kecewa.
Karena, jalan itulah jalanmu,
Jalan yang sengaja dicipta untukmu.

Andai saja kau tahu di ujung jalan itu,
Andai saja kau mengerti di balik misteri itu,
Kau takkan pernah menggerutu,
Apalagi menyesali setiap yang terjadi.
Kau kan belajar bahagia menerimanya,
Karena ada segenggam hikmah yang tak pernah kau bayangkan tanpanya.

Ujian di balik jalan itu kan membuatmu tegar,
Kan membuatmu belajar,
Kan mengawalmu membaca tentang hidup dan dinamikanya,
Kan meluruskan langkahmu,
Tuk mengantarkanmu pada kesempurnaan.

Tahukah kau,
Cinta-Nya tak berdiri sendiri.
Ia hadir dengan dinamika yang mengiringinya.
Cinta-Nya hadir bersama ujian yang Dia berikan.
Karena Ia tahu, kebahagiaan takkan lahir tanpa ujian yang melintasinya.

Berbahagialah mereka yang diuji,
Berbahagialah mereka yang tengah tegar menjalani ujian itu.
Karena mereka kan segera 'naik kelas' menuju kesejatian.
Mereka akan bahagia, selamanya.

Pangadegan, 24/10/2014
Pukul 19.40 WIB

Wednesday, October 22, 2014

Dunia Adalah Kita

@Garuda Indonesia, Agustus 2014
Aku adalah aku 
Yang hidup di antara para pengelana 
Yang bertanya dan menjawab tentang dunia, 
Sendiri, tanpa ada peduli...  

Ku yakin, kamu adalah kamu 
Yang berjalan di antara para ksatria 
Yang bersimbah dalam 'pelukan' maya,
Duniamu, tak kan pernah kau campakkan, 
Melainkan hanya untukmu seorang...  

Tapi... 
Itu semua hanya tentang tempo dulu, 
Yang sudah terurai oleh Sang Waktu. 
Kini, Aku sudah tidak lagi menjadi aku. 
Kamu pun juga bukan dirimu yang dulu...  

Aku sudah menyelami duniamu, dunia hati dan jiwamu, 
Tuk meraih mutiara indahmu... 
Kamu pun, tak kan lari dari sebuah takdir penyatuan ini,
Dirimu sudah melebur dlm sanubariku, 
Menyatukan serpihan-serpihan rasa yg berserak 

Ya, kini aku tak lagi banyak tahu tentangku, 
Tentang jalan takdirQ, 
Aku pula tak lagi menyirami taman duniaku, 
Karena duniaQ takkan pernah lagi sempurna tanpa duniamu...  

Ku tahu, dunia ini hanya misteri... 
Kamulah dunia yg sebenarnya,
Yang menyimpan ribuan kalimat hakiki, 
Tentang hidup dan jembatan-jembatan yang mengiringinya. 
Kamulah duniaku, satu-satunya.  

Aku pun larut dalam bayangan yg sama, tentang duniamu... 
Benar, akulah duniamu, 
Yang mengisi catatan hari-harimu dengan kisah-kisah sejati
Kita, bersatu dalam dunia. 
Berbagi dalam doa dan asa. 
Untuk mengisi seluruh masa. 

Dunia adalah kita... 
Yas & Fi

Pangadegan-III, Jaksel, 
Kamis 2/9/2014 Pukul 01.20 WIB

Sunday, October 19, 2014

YASFI

Mohammad Ilyas & Lefi Henda Maulina

Guratan sejarah antara dua insan,
Di lorong hidup nan damai,
Tak ada asap menggumpal,
Tak ada pula api berkobar.

Lonceng persatuan tak pula bersuara,
Tuk ingatkan peristiwa,
Tak ada berkas cahaya menebar memberi tanda,
Tak ada pula nada-nada merdu nan membubung di atas kepala,
Tak ada.

Hingga suatu malam,
Dering tiba-tiba menyapa,
Membangunkan waktu di ujung alpa,
Sang Rembulan dan Sang Surya mulai larut dalam bisikan...

Tapi, waktu itu pergi begitu saja.
Berjuta bisikan pun berlalu...
Melewati irama yang tiada pasti.
Tak ada kobaran apii, walau tampak asap menepi.
Yang ada, hanyalah sisa alam imajinasi.

Lama tertutup awan,
langit tiba-tiba kembali tersenyum.
Sang Surya pun beranjak naik dari peraduannya...
Menyapa Sang Rembulan,
Bertanya, tentang masa dan sejuta asa.

Ini waktu sudah hampir senja
Kata Sang Surya, yang juga diamini Sang Rembulan.
Lama bertutur dan bercanda dalam dunia maya
Keduanya pun ingin pergi ke dunia nyata
Tuk bersua,
Takdir pun terjadi.
Sepasang kekasih telah berjanji,
Sehidup semati Diselimuti ikatan suci,
Diikat dalam bingkai “YASFI”.

Pangadegan-East Tebet, 7/10/2014 
Pukul 19.54 WIB.

Monday, September 30, 2013

Fenomena Ahok & Komunikasi Seorang Pemimpin

Oleh:  Moh. Ilyas


Tiga hari terakhir, Jakarta gempar dengan demonstrasi penolakan terhadap Susan Jasmine Zulkifli sebagai Lurah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Namun yang lebih gempar adalah 'perang dingin' antara Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, menyikapi penolakan demonstran tersebut.

Tak tanggung-tanggung, mantan Bupati Belitung Timur ini meminta Gamawan Fauzi belajar lagi konstitusi. Pernyataan ini terlontar karena Gamawan meminta Pemprov DKI mengevaluasi penetapan Susan sebagai Lurah Lenteng Agung. Menanggapi itu, Ahok bilang, "Menurut saya, Mendagri perlu belajar tentang konstitusi. Ini negara Pancasila. Bukan ditentukan oleh orang tolak, tidak tolak."

Bak berbalas pantun, Gamawan pun menanggapi pernyataan Ahok dengan serius. Ia menyebut Ahok merupakan sosok yang pongah.

"Saya kecewa atas kepongahan (kesombongan) Ahok, yang dengan membaca berita keliru menyuruh saya belajar UUD. Saya 10 tahun jadi Bupati (Solok), lima tahun jadi Gubernur (Sumbar) dan empat tahun jadi Mendagri. Sementara dia (Ahok) hanya lebih sedikit satu tahun jadi Bupati di Belitung, tapi sombongnya minta ampun," kata Gamawan.

Fenomena Ahok

Ahok telah menjadi fenomena tersendiri. Di balik ketegasannya dalam memimpin DKI, bahasanya yang lantang, keras, dan blak-blakan yang tak jarang membuat telinga panas, menjadi ciri khas tersendiri.

Secara umum memang bukan kali ini saja orang nomor 2 di DKI ini 'bertikai' dengan orang lain lantaran ucapannya yang pedas. Sejak dilantik medio Oktober 2013, komentar-komentarnya terus kontroversial dan membuat orang tersinggung. Misalnya pertikaian dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta yang membentuk Panitia Khusus Mass Rapit Transit dan Pansus Monorel. DPRD menganggap pembentukan Pansus sangat penting agar dua proyek transportasi massal di Ibu Kota itu dapat terlaksana dengan baik.

Tapi apa yang terjadi? Ahok tiba-tiba menganggap pembuatan Pansus itu hanya untuk mencari uang. Ia berkomentar, "Bagus, DPRD kan sukanya Pansus. Ya kan biar dapat honor Pansus. Pansus ada honor kan?"

Belum selesai soal ini, komentar Ahok kembali membuat pendengarnya panas-dingin. Kali ini obyek komentarnya adalah Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana yang akrab disapa dengan panggilan H. Lulung. Dalam menyikapi soal PKL di Tanah Abang, Ahok menyebut H. Lulung tidak tahu Peraturan Daerah.

"Lulung itu kan nggak ngerti peraturan Perda. Ngerti nggak sih waktu Perda itu dia yang bikin sama kami. Secara tidak langsung dia sendiri menyatakan ketidak pantasan dia sebagai Wakil DPRD DKI. Gimana kalau DPRD nya saja nggak ngerti Perda, apalagi yang melanggar Perda," kata Ahok, Juli lalu. Pernyataan ini sempat memanas dan keduanya juga sempat bersitegang.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa sekadar tegas tidak cukup bagi seorang pemimpin. Ketegasan sikap ini harus diiringi dengan penyampaian dan pola komunikasi yang baik. Ide-ide Ahok boleh saja cemerlang dalam membangun DKI. Hanya saja jika pola komunikasi yang dibangun seperti itu, dalam arti mengedepankan emosionalitas, maka ia akan mudah memutus substansi ide yang digulirkan. Dengan kata lain, masyarakat menjadi unmotivated dan cenderung tidak care terhadap idenya, karena komunikasi yang digunakan. Apalagi dalam banyak contoh, Ahok cenderung terjebak pada perdebatan personal. Ia memojokkan individu tertentu dalam upaya menjustifikasi ide yang dianggapnya benar. Akibatnya tercipta friksi-friksi yang tidak lagi berbicara gagasan, tetapi mengarah pada kebencian personal.

Komunikasi Pemimpin

Menjadi pemimpin, memang, tidak seindah dan semudah yang kita pikirkan. Di pundaknya terdapat jutaan beban sekaligus amanah orang-orang yang dipimpinnya. Tugas pemimpin, dalam situasi apapun adalah bagaimana menjalankan amanah itu dengan sebaik mungkin.

Tentu saja untuk menjalankan amanah ini membutuhkan piranti, dan di antara piranti yang utama adalah komunikasi. Komunikasi urgen karena menjadi semacam 'jembatan' bagi pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Bila pemimpin gagal membangun komunikasi yang baik dan sesuai dengan lingkungan orang-orang yang dipimpinnya, bisa dipastikan ide-ide kepemimpinannya akan sulit diterima, bahkan ditolak.

Dalam ilmu komunikasi politik, kita mengenal Teori Empati dan Teori Homofili. Dalam teori ini, seorang pemimpin dituntut untuk mampu menyesuaikan suasana pikirannya dengan alam pikiran khalayak. Selain itu, komunikasi juga didasarkan pada kesamaan (homofili) yang dipandang lebih efektif ketimbang oleh ketidaksamaan derajat, ras, agama, ideologi, simbol politik, dan seterusnya. Dengan begitu, komunikasi perlu disandarkan pada situasi tertentu sesuai dengan alam atau lingkungan di sekitar kita.

Penyesuaian ini tentu dalam upaya menyampaikan hakikat dari komunikasi itu sendiri sebagai "transfer of information". Seorang pemimpin yang tidak bisa mengalirkan ide-idenya kepada publik dengan cara yang diinginkan mereka, sesungguhnya pemimpin tersebut telah gagal melakukan komunikasi politik. Pandangan ini bila kita merujuk pada konsep dari Everett M. Rogers yang menyebut komunikasi sebagai proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka; atau konsep dari Harold Lasswell yang menyebut komunikasi dengan "Who Says What In Which Channel to Whom With What Effect?" atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?

Maka, komunikasi telah menjadi tantangan pertama sekaligus utama bagi Ahok maupun pemimpin-pemimpin lainnya jika ingin mencapai sukses. Komunikasi yang baik adalah yang dapat mengalirkan ide, usulan, saran, bahkan perintah yang bisa direnungkan dan dijalankan oleh orang-orang yang dipimpinnya, sehingga bisa menghasilkan perubahan. Sikap tegas adalah keharusan bagi pemimpin, tetapi sikap itu saja tidak cukup, jika tidak disertai kearifan dan pola komunikasi yang bisa diterima oleh orang-orang yang dipimpinnya, tanpa ada yang tersakiti.




* Tulisan ini dimuat sebagai Tajuk di portal online, Sayangi.com, pada Senin, 30 September 2013 18:25

Monday, September 23, 2013

Garuda Muda, "Sang Juru Selamat"


Oleh:  Moh. Ilyas

Jutaan mata menatap layar kaca. Dari kelopak mata mereka berlinang air mata, dada mereka pun berdegup kencang diselimuti kekhawatiran antara menang dan kalah. Dari mulut mereka terdengar suara-suara teriakan, "Ayoo Indonesia..."

Itulah sekilas singkat situasi masyarakat kita kala menonton Final AFF antara Timnas Indonesia U-19 melawan Timnas Vietnam U-19 di Stadion Gelora Deltra Sidoarjo, Minggu (22/9/2013) malam.

Sepintas, penggambaran di atas, terkesan agak dramatis atau bahkan bombastis, tapi sebenarnya yang terjadi memang tidak jauh dari situasi itu. Kita, masyarakat bangsa Indonesia seperti turut terlibat dalam pertempuran di lapangan hijau untuk membawa garuda terbang tinggi.

Situasi di atas bagi bangsa ini adalah wajar terjadi. Jika kita amati, kalimat di atas merupakan bentuk kerinduan anak-anak bangsa terhadap prestasi bangsanya di dunia internasional dalam segala bidang, sekecil apapun, dalam bentuk apapun, tidak hanya dalam dunia sepakbola.

Apalagi di dunia sepakbola sudah bertahun-tahun Indonesia nir prestasi. Di ajang Asian Cup, Piala Asia, Liga Champion Asia, Kualifikasi Piala Dunia, hingga Sea Games yang dipupus Malaysia di babak Final, 2011 lalu. Indonesia nyaris tak bisa dibanggakan dalam hal prestasi.

Barangkala jika kita ditanya tentang sepakbola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, maka yang langsung tergambar di benak kita adalah konflik. Di luar isu korupsi yang merebak, adalah masalah kekacauan hingga dualisme di tubuh PSSI sebagai pengelola sepakbola Tanah Air. PSSI di satu sisi dan KPSI di sisi yang lain. Sepakbola Indonesia begitu lama mendekam di balik jeruji konflik, hingga akhirnya, setelah sekian lama meluluhlantakkan persepakbolaan Indonesia, ditemukanlah solusi meredakan konflik, sekaligus menyatukan sepakbola kita.

Dengan kembali bersatunya dua kubu yang bertikai, yakni PSSI dan KPSI, kita bisa menghirup udara segar sembari kembali mencurahkan harapan untuk kebangkitan Indonesia. Kemenangan Garuda Muda ini, adalah buah dari harapan itu.

"Juru Selamat" Bangsa

Sesaat setelah Pasukan Garuda Muda memastikan diri sebagai juara, ribuan do'a dan kalimah syukur dilontarkan. Bahkan tangis bahagia pun pecah di berbagai titik. Kegembiraan menaungi langit Indonesia.

Namun, ada sisi lain yang penulis jumpai dalam beberapa media sosial. Sebuah ungkapan semisal, "Alhamdulillah, sejenak bisa melupakan kebusukan para koruptor di Indonesia". Ada pula yang menulis, "Mari lupakan kesengsaraan rakyat sejenak, kita syukuri prestasi ini." "Saatnya rakyat melupakan naiknya harga kedelai."

Komentar-komentar ini menunjukkan bahwa dada kita sudah cukup lama sesak, bahkan hati kita cukup lama menjerit karena ketidakadilan, hukum yang diperjual-belikan, data-data kemakmuran rakyat yang hanya ditulis di balik meja, sehingga tak sesuai antara fakta banyaknya rakyat yang kelaparan dengan angka kemiskinan di Badan Pusat Statistik.

Ini belum lagi soal fakta-fakta kekecewaan terhadap politisi dan pejabat negara kita. Di saat mereka dibutuhkan rakyat, mereka ramai-ramai korupsi. Menteri korupsi, anggota DPR korupsi, PNS korupsi, bahkan pejabat sekelas guru besar pun terlibat skandal korupsi. Rakyat betul-betul shock dengan bangsanya sendiri.

Bahkan, penegak hukum pun yang mestinya menegakkan hukum juga korupsi. Inilah puncak gunung es kekecewaan rakyat. Rakyat pun kian pesimis, apa sebenarnya yang bisa dibanggakan dari bangsa ini ketika semua sektor hasil bumi dijarah secara berjamaah, ketika semua aparat negara dari presiden hingga lurah dan Ketua RT tak lagi bisa dipercaya, dan atau ketika anak-anak bangsanya dibiarkan telantar dan putus sekolah karena mahalnya biaya sekolah? Apa yang bisa dibanggakan, ketika, ketika, dan ketika.

Kita tentu tidak boleh menjadi bangsa pesimis. Tetapi, tak bisa diingkari bahwa bangsa ini tengah diselimuti berbagai kekecawaan.

Maka di saat demikian, prestasi skuad Timnas Indonesia U-19 yang menjuarai Piala AFF, menjadi pelipur lara, menjadi obat penawar, sekaligus penyelamat bangsa ini. Dengan prestasi ini, masyarakat kian percaya, bangsa ini masih bisa lebih baik, tidak hanya di sektor persepakbolaan, tetapi di berbagai sektor lainnya. Kita tetap harus menjadi bangsa yang optimis. Jayalah Garudaku! Terbanglah setinggi mungkin!

* Tulisan ini dimuat sebagai Tajuk di portal online, Sayangi.com, pada Senin, 23 September 2013 22:02

Monday, August 12, 2013

Idul Fitri, Momentum Menjadi Politisi Fitri

Oleh:  Moh. Ilyas

KITA baru saja melewati hari besar umat Islam, Lebaran Fitrah atau yang dikenal Hari Raya Idul Fitri. Idul Fitri ini merupakan puncak petualangan spritual seorang Hamba untuk Sang Penciptanya setelah sebulan penuh ditempa dalam goa pertapaan jasmani dan rohani.

Dalam tradisi masyarakat kita secara umum, Idul Fitri lebih diidentikkan dengan suasana pulang kampung (mudik) bagi mereka yang merantau, atau juga diterjemahkan dengan suasana pakaian baru. Bahkan, di banyak pedalaman, melaksanakan Idul Fitri tanpa mengganti pakaian baru rasanya tidak afdhal bahkan tidak absah.

Tentu ini bukan pemahaman yang keliru, namun hanya kurang tepat. Idul Fitri memang identik dengan kebaruan atau pembaruan (tajdid), tapi pembaruan yang ia tuntut adalah pada aspek ruhaniyah, bukan jasadiyah. Ia meniscayakan pembaruan iman, sebagai konsekuensi logis dari fase perjalanan manusia dalam tiga etape selama Ramadhan, yakni rahmah (kasih sayang-Nya), maghfirah (pengampunan dosa), dan 'ithqun min an-naar (penyelamatan dari api neraka).

Secara harfiah, Idul Fitri bermakna "kembali ke masa fitrah". Ini berarti bahwa manusia kembali ke sebuah masa terbaru dalam sejarah dan pengalaman hidupnya. Manusia kembali pada situasi jiwa yang suci, murni, tanpa noda seperti saat baru dilahirkan. Filusuf John Lock mengibaratkan manusia pada fase ini dengan istilah "tabula rasa", yakni ibarat kertas putih. Analog ini hendak menunjukkan sebuah situasi kertas yang masih kosong, jauh dari oretan-oretan tinta hitam. Artinya pada fase ini, kehidupan manusia bisa leluasa diisi dengan "content" baru, tanpa terganggu dengan content-content yang lain.

Dengan demikian, terminologi "baru" dalam idul fitri ini adalah kembalinya kita pada jiwa yang suci, bebas dari noda sekecil apapun. Kita telah kembali lagi menjadi pribadi yang fitri.

Politisi yang Fitri

Kembali ke masa fitrah (suci) merupakan hasil "panen" dari proses tapabrata selama sebulan "menanam" kebaikan dan ibadah di bulan puasa. Fitrah memanglah term umum yang bisa dimiliki siapa saja, terutama oleh shaim (orang yang berpuasa). Namun, fitrah juga menjadi term yang secara khusus berlaku bagi politisi.

Bagaimana masa fitrah bagi politisi? Sejak awal Ramadhan hingga saat ini, banyak politisi menggelar agenda seremonial seperti Buka Puasa Bersama, Sahur Bersama, hingga Halal Bihalal pasca-Idul Fitri. Hal ini sudah menjadi 'ritual' tahunan bagi sebagian mereka, yang tentu dengan dalih beraneka ragam, mulai dari sekadar menjalin silaturrahim hingga pada agenda-agenda politik strategis. Agenda-agenda ini bahkan tak ayal bisa menjadi pintu penyatuan agenda politik (baca: koalisi) menjelang kontestasi Pemilu dan Pilpres mendatang.

Namun hal terpenting tidak sebatas pada gegap gempita kaum politisi menyambut Ramadhan dan Idul Fitri itu. Pada tahun 2013 yang bisa disebut sebagai tahun politik ini, ada hal lain yang lebih strategis dan lebih esensial yang perlu diperhatikan, yaitu ikhtiar mereka sebagai politisi untuk kembali ke masa fitrah.

Menjadi fitri dalam konteks politik adalah mewujudkan nilai-nilai substantif dari politik itu sendiri, membawa politik ke dalam jati dirinya, yaitu sebagai alat pencipta kesejahteraan bagi rakyat. Politik, tidak semata diterjemahkan sebagaimana pandangan Harold D. Lasswell "Who get what, when, and how" atau definisi yang lebih pragmatis, "The art of possibility". Tapi lebih dari itu, politik menyangkut "polis"-nya Plato dalam menggambarkan negara kota. Politik juga mesti dimaknai sebagai usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama sebagaimana teori klasik Aristoteles. Oleh karenanya politik tidak akan lepas dari tanggung jawab terhadap rakyat. Keberadaannya akan senantiasa berkaitan dengan kebaikan rakyat banyak.

Inilah "makna fitrah" politik, sehingga tidak heran bila disebutkan bahwa politik pada prinsipnya suci. Namun dalam pelaksanaannya, politik selalu dikaitkan dengan cara-cara yang cenderung bebas nilai, bahkan menodai nilai-nilai agama dan kemanusiaan, yang menyebabkan bergesernya makna politik menjadi sesuatu yang selalu berkonotasi kotor.

Paling tidak, inilah potret pragmatisme politik di Indonesia. Politisi-politisi Indonesia masih cenderung memaknai dan melaksanakan politik sebagai kegiatan yang semata diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Akibatnya, substansi politik, terutama partai politik sebagai lambaga formal dari aktor-aktor politik itu terciderai. Partai politik yang di antara fungsinya sebagai "contract with people" juga sulit ditemukan.

Kenapa ini terjadi? Karena politisi kita cenderung lebih mengikuti kata kekuasaan, daripada kata rakyat sebagaimana mestinya. Politisi kita cenderung 'takluk' pada kehendak uang daripada nilai juang berupa kesejahteraan rakyat. Politisi kita telah jauh meninggalkan fitrahnya sebagai politisi.

Oleh karenanya, momentum Idul Fitri di tahun hiruk-pikuk politik ini, sejatinya menjadi ajang perbaikan sekaligus ikhtiar untuk menjadi politisi nan fitri. Bila politisi kita sudah bisa mencapai "tangga" fitrah politik ini, penulis optimis dunia politik kita ke depan akan sarat dengan warna perbaikan bangsa, bukan drama yang hanya kaya huru-hara. Perbaikan bangsa bukan hanya bergaung dalam obral-obrol janji dan pidato semata, tapi terlaksana dalam realita. Semoga!

* Tulisan ini dimuat sebagai Tajuk di portal online, Sayangi.com, pada Senin, 12 Agustus 2013 15:14

Sunday, June 30, 2013

Jalan Manusia


Jika Pramoedya Ananta Toer menulis "Bumi Manusia", layak juga digagas mengenai "jalan manusia". Jalan manusia mengupas soal etape, tahapan, sekaligus proses manusia dalam menerjemahkan kehidupan. Jalan manusia ini tidak sekadar jalan secara fisiologis, namun juga jalan psikologis.



Semakin Tahu, Manusia "Semakin Bodoh"

Lompatan Kehidupan

Oleh: Moh. Ilyas
 

Di masa kecil, kita sudah begitu sering mendengar atau pun menggunakan kata "lompatan". Terutama, bagi kita yang melalui masa kecil di perkampungan, dengan permainan khasnya, atau dengan banyak lubang yang sengaja digali untuk kebutuhan permainan kita. Wal-hasil,kita begitu "kaya" dengan suasana masa lalu yang sarat dengan penggunaan kata "lompatan".

Namun "lompatan" dalam tulisan ini tak semata ditujukan pada kata yang secara artifisial sepadan dengan kata jumping yang berarti melompat. Ia lebih diarahkan pada sebuah gerak dan proses bahwa sejatinya manusia "dilarang keras" diam menerima kenyataan sebagai sebuah kutukan. Manusia mesti menyadari bahwa dalam hidup ada tangga-tangga yang mesti dilalui, dan itu membutuhkan keberanian untuk melakukannya.

Kenapa lompatan diperlukan? Untuk menjawab ini, kita berangkat dari sebuah ibrah bahwa dalam hidup ini terdapat tangga-tangga. Ada kecil, sedang, dan besar. Ibarat angka, ia memiliki angka 1 hingga 10, atau ibarat jenjang pendidikan formal, mulai dari SD hingga SMA, yang kesemuanya diciptakan untuk membedakan tingkat ilmu pengetahuan seseorang.

Manusia membutuhkan sebuah lompatan dalam mengarungi hidup ini. Mereka tidak boleh terjebak dalam status quo, karena ia menjadikannya begitu mudah menerima kenyataan hidup tanpa ikhtiar lebih. Hidup seakan sudah final dan tidak ada impian lagi yang perlu dikejar. Jika diibaratkan pertandingan sepakbola, ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup, tak ada lagi manfaat gol secantik apapun. Ia tidak bisa memengaruhi skor pertandingan.

Lompatan kehidupan ini bisa terbaca jelas pada sosok idealis dan perfeksionis. Gambaran sosok dengan dua karakter ini, tidak pernah berhenti pada satu kenyataan. Ketika ia tiba dalam satu kenyataan, maka sesungguhnya kenyataan itu seperti khayalan baginya. Ia kemudian berpikir untuk menuju kenyataan baru, kenyataan yang lebih baik, kenyataan yang lebih sempurna. Maka, dalam konteks ini, lompatan menjadi hal yang tak terelakkan untuk dilakukan.

Tentu saja setiap individu akan menemukan model lompatan yang berbeda-beda satu sama lain, karena memang lompatan itu warna-warni. Ada lompatan yang sengaja diciptakan, ada yang tidak sengaja alias mengalir dengan sendirinya, dan ada bahkan lompatan yang harus direkayasa. Dalam profesi kejurnalistikan misalnya, ada yang awalnya menjadi calon reporter, reporter, asisten redaktur, redaktur, hingga Pemred. Kendati begitu, lompatan tidak mesti "sejalur". Berbeda jalur, bukan berarti tidak mengalami lompatan. Bahkan, bukan hal mustahil, dalam jalur yang berbeda itu bisa didapat lompatan yang lebih sempurna.

Namun demikian, apapun jenis dan dinamika lompatan yang dijalani seseorang, pada akhirnya, ia akan sampai pada kenyataan baru yang biasanya lebih baik dari sebelumnya. Lompatan telah menjadi piranti manusia dalam menggapai impian baru, untuk menuju dunia baru, yang lebih baik.

Tesis "Besar" dalam "Imajinasi"

Oleh: Moh. Ilyas

Tesis. Itulah kata yang paling ditunggu sekaligus paling ditakuti oleh mahasiswa strata dua (S-2). Ditunggu, karena ia merupakan persyaratan kelulusan mahasiswa dari bangku pascasarjana. Ditakuti, karena ia merupakan tugas paling berat dari sekian banyak tugas selama berkiprah dalam dunia akademik.

Bagi mahasiswa pasca, sebenarnya membuat tesis bukan permasalahan yang perlu dilebih-lebihkan. Mereka sejatinya merasa mudah dan menganggap tugas itu hal biasa sebagai 'pintu masuk' untuk mendapatkan gelar master. Tapi kenapa kemudian tidak sedikit mahasiswa yang mengeluh dan bahkan 'lempar kewajiban' dengan cara menyuruh orang lain atau 'memesan' jasa tertentu untuk menyelesaikan tugas yang mesti diselesaikannya?

Inilah persoalannya. Mahasiswa terlalu ingin lulus dengan cara mudah, sehingga praktik yang tidak terpuji pun ditempuh. Penulis menganggap meminta jasa atau orang tertentu untuk pembuatan tesis merupakan tindakan tidak terpuji, karena ia merupakan kewajiban primer bagi mereka sebagai pembuktian akan kesungguhan dan hasil dari akademik yang ditempuhnya. Dengan kata lain, bila seorang mahasiswa sudah rela memberikan tanggung jawab akademik ini kepada orang lain, sama halnya ia tidak peduli dengan akademik yang ia jalani selama di bangku kuliah.

Bila menyoroti fakta modus pemesanan pembuatan tesis melalui jasa ini, sangat mudah ditebak jika yang bersangkutan juga melakukan hal yang sama saat menyelesaikan tugas skripsi untuk memenuhi syarat kelulusan program sarjana (S1). Boleh jadi memang tidak memesan, tetapi skripsi yang dibuatnya tak lebih dari sekadar plagiasi alias copas (copy-paste) dari karya orang lain. Inilah cara instan yang akhirnya menciptakan karakter "penyontek" bagi mahasiswa, tak terkecuali bagi mahasiswa S2 dalam menyelesaikan tesis.

Persoalan semacam ini pula yang harus saya hindari saat ini. Meskipun kampus (FISIP UI) sudah mendesak untuk segera menyelesaikan Reading Course sebagai jembatan dasar menuju pembuatan tesis, namun saya tak bisa dengan segera memenuhinya. Terlalu banyak pilihan topik yang menggoncang kepala saya, tetapi tak ada satu pun yang saya anggap betul-betul pas. Ada banyak alasan kenapa saya menganggap tidak pas, mulai karena soal kemurnian ide, daya tarik fenomena, hingga pada aktualitas informasi dan gagasan yang hendak diusung. Beberapa di antaranya yang kini masih menggelayuti pikiran adalah soal masa depan politik partai Islam di Indonesia; persoalan demokrasi di Indonesia (Pancasila dan Islam); hingga pada status konsep "musyawarah" yang tertuang dalam Pancasila, namun "ditinggalkan" dalam praktik demokrasi saat ini.

Sepintas, ide-ide ini tampak bagus. Namun ketika disoroti lebih jauh, sudah banyak peneliti sebelumnya, baik untuk kebutuhan tesis, desertasi, maupun bentuk penelitian lainnya yang sudah "mengobrak-abrik" persoalan ini. Tapi entah, apakah masih ada sisi lain dari persoalan ini yang belum dipotret para peneliti itu, sehingga saya bisa mengambilnya? Atau saya memang harus pindah ke persoalan lain yang lebih menarik sehingga bisa menjadi buah karya alias tesis besar??? Layak ditunggu....

Semoga!!! Amien!!!

Saturday, April 27, 2013

“Pseudo Gerakan Mahasiswa”, Sebuah Sinopsis



Gerakan mahasiswa di Indonesia secara kuantitatif, masih sangat dibanggakan. Namun jika dilihat dari hasil (baca: kualitatif), gerakan mahasiswa menjadi sesuatu yang kurang bermakna. Alasannya karena aspirasi mereka yang dilakukan melalui gerakan itu hampir tidak pernah digubris oleh pemerintah atau juga penguasa.
Gerakan mahasiswa seperti hanya angin lalu. Sehingga jika pemerintah memiliki kebijakan apapun, termasuk yang kontra kepentingan rakyat sekalipun, akan tetap jalan, meskipun mahasiswa menolaknya. Mereka jarang sekali mengindahkan suara-suara ekstra-parlemen. Bahkan, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden yang selalu ‘menghilang’ jika mahasiswa melakukan aksi besar-besaran sebagai bentuk protes atas kepemimpinannya. Di sini terlihat, gerakan mahasiswa begitu tumpul, sehingga tak mampu membuka batin penguasa.
Kenapa ini terjadi? Karena gerakan mahasiswa tak lebih dari sekadar gerakan palsu atau pseudo-gerakan. Banyak gerakan mahasiswa yang tidak murni lahir dari nurani perubahan, tetapi hanya lahir dari faktor lain yang tidak essensial dan bahkan sangat sesaat.
Dalam konteks HMI pun demikian. Gerakan politik maupun intelektual juga mengalami pseudo. Ini bisa dilihat dari kejumudan dan kemandegan berpikir yang melanda HMI. Begitu pun dalam aspek politik, di mana politik di HMI mengalami krisis. Di saat misi HMI menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan Tauhid, justru HMI tampil dengan gaya politik jauh dari nilai-nilai itu. Politik HMI yang cenderung dekat dengan pragmatisme telah menjadi politik yang tanpa nilai.

Tuesday, July 31, 2012

Pilkada DKI

Bismillahirrahmanirrahim

KPU dan Masa Depan Indonesia

Oleh Moh. Ilyas

(Wasekjen Eksternal PB HMI)

DALAM beberapa pekan terakhir, Panitia Seleksi (Pansel) anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sudah menyerahkan hasil seleksinya ke tangan DPR. Pansel menyerahkan 24 nama calon, yang terdiri dari 14 calon anggota KPU dan 10 calon anggota Bawaslu.

Di tangan DPR, melalui fit and proper test (uji kelayakan) langsung ditentukan tujuh orang komisioner KPU dan lima orang anggota Bawaslu. DPR menyeleksi secara seksama nama-nama yang memang layak dalam memediatori perjalanan kepemimpinan negeri ini di masa yang akan datang. Terlepas dari proses politik, yang terkadang memuat ‘kultur negatif transaksional”, anggota KPU dan Bawaslu memiliki peran strategis dan utama kualitas pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 akan ditentukan.

Sepintas, keberadaan calon anggota KPU baru ini terlihat biasa-biasa saja, tak terlalu kuat daya tariknya bagi publik, terutama media. Ini terlihat saat proses seleksi yang tak banyak media mendengungkan. Bahkan jika dibandingkan dengan saat proses seleksi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa bulan lalu, proses seleksi anggota KPU ini jauh berada di bawahnya.Padahal, secara substantif, KPU memiliki peran yang sama sekali tak bisa diremehkan. KPU merupakan salah satu lembaga yang sangat kuat dalam menyongsong masa depan negeri ini.



Titik Vital KPU

Judul "KPU dan Masa Depan Indonesia" dalam tulisan ini barangkali kesannya agak berlebihan, yakni menjadikan KPU sebagai "pintu" masa depan Indonesia. Namun jika ditelisik lebih jauh, judul ini sangat layak disandingkan terhadap penyelenggara kontestasi politik lima tahunan itu. Alasannya karena KPU ibarat tiang penyangga terkuat dan determinan dalam sebuah proses demokrasi.

KPU determinan, karena ajang demokrasi, berikut dinamika-dinamika di dalamnya tak akan pernah lepas dari pantauan dan pengetahuan KPU. Bila demokrasi ternodai oleh semisal praktik-praktik 'menghalalkan segala macam cara', maka KPU akan hadir di garda terdepan dalam menyelesaikannya.

Tidak hanya itu, noda-noda terburuk Pemilu seperti penggelembungan suara, suara tidak sah, pemilih ganda, dan banyak jenis-jenis lainnya, mudah saja diketahui oleh KPU melalui laporan masyarakat terhadap Bawaslu/Panwaslu, yang kemudian dilaporkan terhadap KPU dan KPU mampu tampil tegas menyikapinya.

Dalam konteks ini, KPU menjadi 'decision maker' tunggal dalam pelaksanaan Pemilu. Sehingga bila integritas orang-orang di internal KPU bobrok, maka dapat dipastikan bahwa pelaksanaanPemilunya pun akan bobrok.

Sebut saja kisah-kisah pilu dalam proses Pemilu di tingkat pusat atau daerah, yang terkadang, harus mengorbankan nyawa. Mengapa itu terjadi? Karena seringkali dijumpai ketidakpuasan akibat pelaksanaannya yang amburadul. Pihak yang dirugikan akhirnya melakukan hakim sendiri, dengan bentrok antar-tim sukses, karena KPU tak berdaya menjadi penengah dan meniadakan pelanggaran dalam Pemilukada. Bahkan, tak sedikit KPU yang justru terperangkap dalam 'permainan', sehingga menyebabkan chaos publik.

Salah satu contoh yang mungkin dan akan terus melekat dalam benak kita adalah Pemilu 2009. Pemilihan yang dilalui melalui proses demokrasi ini justru telah menciptakan 'kegaduhan' politik, irrasionalitas politik, bahkan hingga trauma politik. Publik trauma untuk kembali terlibat dalam momentum-momentum demokrasi, karena di dalamnya banyak praktik penodaan terhadap proses demokrasi. Bahkan banyaknya pelanggaran dalam Pemilu yang mengantarkan Partai Demokrat dan Presiden SBY sebagai pemenang itu terasa telah mencabik-cabik otentisitas demokrasi yangdigambarkan dengan sebutan "Jurdil" alias jujur dan adil.Inilah yang kemudian menjadi penyebab dasar munculnya 'pengingkaran massal' terhadap KPU. Publik kecewa atas kinerja KPU yang diduga kuat telah ‘takluk’ dalam tekanan kelompok tertentu, bahkan – jika boleh disebut sebagai boneka – kelompok yang memiliki kepentingan.

Kendatipun demikian, tak banyak pihak yang hendak menguak kembali ‘drama’ Pemilu 2009 yang sangat imajinatif. Mereka yang mengerti kasus-kasus di balik drama tersebut lebih memilih diam untuk menyelamatkan bangsa. Sebab, ketika kebobrokan itu diungkap secara gambling, bukan tidak mungkin negara ini akan chaos besar. Inilah fenomena yang menjadi dampak buruk dari kinerja KPU. Maka, di sini pulalah dapat dikatakan KPU sangat berperan strategis dalam mengendalikan kepemimpinan masa depan.

Terakhir, kasus pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi (MK) yang menjerat nama mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Andi Nurpati adalah salah satu misal persoalan KPU yang "bejibun". Bahkan saat Nurpati tiba-tiba masuk dalam struktur DPP Partai Demokrat setahun kemudian, segera muncul pertanyaan-pertanyaan dan kecurigaan-kecurigaan, "Apakah KPU Pusat, termasuk Andi Nurpati ada kaitannya di balik kemenangan Demokrat pada Pemilu 2009?" Wallahu a’lamu bi ash-shawabi.SBY Sebagai “Produk Pemilu”

Presiden SBY boleh berbangga, karena dialah pemimpin pertama di negeri ini yang dihasilkan melalui Pemilihan Umum secara langsung. Namun rupanya proses itu belum cukup mengembirakan, sebab ia tak mampu mengemban amanah rakyat yang telah mempercayakan pemerintahan di pundaknya.Bahkan di masa kepemimpinannya yang sudah periode kedua, bukan prestasi yang terungkap ke publik, melainkan justru kegagalan-kegagalannya.

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) pada Oktober 2011 lalu mengungkapkan temuan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap tujuh tahun kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). BPK menemukan penyimpangan anggaran negara sebesar Rp 103,19 triliun. Anehnya, dari temuan yang direkomendasi BPK ini, baru Rp 37,87 triliun yang ditindaklanjuti.

FITRA menyebut penyimpangan anggaran ini sebagai perampokan uang negara dan ini juga dinilai sebagai bukti bahwa selama tujuh tahun menjabat jadi presiden, SBY tidak mampu memimpin. Bahkan semakin aneh, kala temuan audit BPK seolah menjadi ritual prosedur tahunan saja dan tidak memberikan efek jera pada perampok anggaran tersebut. Padahal, audit BPK itu bisa menjadi bahan atau dasar untuk menindaklanjuti perampokan uang negara yang selama ini terjadi.

Ini masih dalam batas anggaran, belum lagi utang negara yang pada akhir 2011 lalu mencapai Rp 1.803,49 triliun. Jumlah ini meningkat Rp 126,64 triliun, dibandingkan 2010 yang mencapai Rp 1.676,85 triliun. Bukan tidak mungkin pada tahun ini, jumlah utang negara bisa tembus Rp 2.000 triliun. Padahal di masa kepemimpinan Megawati pada 2003 lalu, utang negara sebesar Rp 1.232 triliun.

Mengapa ini terjadi? Ini disebabkan karena negeri ini seperti tak punya pemimpin, alias pemimpinnya seperti sedang 'tidur' dalam mengurus negaranya. Bagaimana tidak, pemerintah selalumelakukan ‘gali lobang’ untuk membiayai negaranya. Negeri yang kaya tak dimanfaatkan secara optimal. Pakar Ekonomi  Kwik Kian Gie, mengatakan, minusnya pemasukan negara dalam rangka penyusunan APBN membuat pemerintah selalu menutupinya dengan cara utang-berhutang (LN, Lembaga Donor, World Bank, dan lain-lain). (Arrahmah.com, 23/11/2011).
Ini belum lagi soal kepemimpinan SBY yang selalu mengandalkan citra dan mengobral janji, namun tidak menunaikannya menjadi kenyataan. Akibatnya kesengsaraan rakyat tak pernah selesai dan rakyat nyaris tak pernah puas dengan kepemimpinan SBY. Hal ini pun mengundang perhatian sejumlah tokoh agama yang telah menyebut rezim SBY sebagai "Rezim Pembohong".
Data-data ini menunjukkan bahwa kepemimpinan SBY yang dilahirkan dari proses demokrasi masih sangat mengecewakan. Sehingga pemimpin produk demokrasi pun tak bisa dijadikan ukuran akan kualitas kepemimpinan.

Kendati demikian, penulis tidak mencoba menggugat dan menafikan peran demokrasi. Demokrasi telah tampil sebagai alternatif di tengah maraknya kepemimpinan monarki dan absolut. Hal ini pun berlaku di Indonesia.

Namun dalam konteks Indonesia ini, yang layak disorot barangkali bukanlah penerapan demokrasi, melainkan orientasi demokrasi yang hanya terpusat pada tujuan, bukan proses. Padahal proses itulah yang mesti dihargai.

Pandangan ini sangat mungkin juga melanda KPU yang lebih menekankan pada tujuan. Ketidakprofesionalan KPU dalam menyelenggarakan Pemilu cenderung tidak lagi menghargai proses jujur dan adil sebagaimana mestinya, tetapi sekadar menyukseskan penyelenggaraan Pemilu dengan terpilihnya pemimpin tertentu. Wal-hasil, KPU mesti profesional, menghargai proses demokrasi secara jujur dan adil dan tidak mememihak siapapun. Jika KPU tidak mampu tampil demikian, masa depan kepemimpinan nasional yang prosesnya melalui KPU, masih akan terus buram.

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Medium

Perbedaan, Kenapa Mesti Dipersoalkan?


Anas Urbaningrum dan Hegemoni "Trial by Press"

"Tokoh muda dengan posisi strategi dan gemilang". Itulah barangkali kalimat yang pas untuk menggambarkan Anas Urbaningrum. Di usianya yang masih 41 tahun, ia telah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat saat Kongres PD di Bandung, 2010 lalu. Kontan saja, prestasinya menempati posisi tertinggi partai penguasa itu mendongkrak namanya menjadi politisi muda kawakan yang layak diperhitungkan dalam percaturan politik di negeri ini.

Tak pelak, semakin hari sejak terpilih, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ini terlihat terus bersinar. Bahkan namanya sudah kerap disebut-sebut sebagai calon presiden alternatif dari perwakilan kaum muda pada 2014 mendatang. Dukungan-dukungan pencapresannya di dunia online yang sengaja diciptakan fans-nya terus beranjak naik, bahkan dukungan ini sudah mulai terdengar sayup-sayup di telinga.

Tapi rupanya, prestasi gemilang dan dukungan yang mulai menguat ini tak seindah perjalanan berikutnya. Di tengah lembaga survei yang sudah menempatkan namanya sebagai calon presiden populer yang mengungguli politisi sekelas Megawati, Aburizal Bakrie, dan Prabowo Subianto, perlahan tapi pasti, duri sandungan mesti ia hadapi. Ia dituduh terlibat banyak skandal korupsi oleh Nazaruddin, yang tak lain adalah Bendahara Umum partai yang dipimpinnya. Ia menuding Anas terlibat beberapa kasus suap dan korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga, yakni kasus pembangunan Wisma Atlet dan gedung olahraga Hambalang di Bogor, Jawa Barat.

Ibarat api dalam sekam. Kasus yang awalnya hanya sekadar nyanyian seorang Nazaruddin saat ia dalam pelarian di Singapura hingga Kolombia, kini menjadi "nyanyian" banyak orang di negeri ini. Hampir semua orang terpengaruh dan terbawa dalam nyanyian Nazar yang menyebut keterlibatan Anas tersebut. Padahal, tak pernah ada yang tahu apakah ucapan Nazar itu benar atau salah.

Thursday, March 31, 2011

Negeri Tanpa Identitas


Indonesia...

Engkaulah negeriku...

Merah-Putih lambang kesucian hati dan keberanian jiwamu...

Garudamu terbang membawamu ke langit segala langit kemajuan dan kemerdekaan...

Indonesia, itulah dirimu...


Tapi sayang, itu masa lalu... Hai bangsaku...

Kini, kau bukan lagi Indonesia yang ku kenal tempo dulu...

Merah-Putih benderamu telah ditukar dengan aneka ragam warna,

Hingga anak-anakmu tak lagi mengerti tentang kesucian dan keberanian...

Kesucianmu dinodai dengan praktik-praktik korupsi dan perampokan...

Keberanianmu disalahgunakan untuk merebut kekuasaan atasmu, bukan melawan musuh-musuhmu...

Kini, kau telah jadi tumbal, wahai bangsaku...


Negeriku...

Kini, tak ada lagi simbol kekuatan pembangunan...

Sebab, burung Garudamu telah dicabik-cabik hingga tak berdaya

Garudamu telah dicengkeram dengan nafsu dan syahwat kekuasaan anak-anakmu...

Di negerimu, tak ada lagi misi pembangunan...

Tak ada lagi misi penyejahteraan rakyatmu...


Oh, Indonesiaku...

Kini identitasmu telah direnggut anak-anakmu yang serakah,

Garudaku, pergilah... Engkau hanya dijarah tiap waktu...

Di Indonesia, tak ada lagi yang menghargaimu...

Pergilah...!!!

Tak usah lagi bicara tentang negeri ini,

Karena ia tak lagi memiliki identitas...

Ya, Indonesiaku kini menjadi negeri tanpa identitas...


WPM, Jaksel, 31/3/2011

Pukul 23.03

Quo Vadis KPK?

Oleh Moh. Ilyas*

Sejumlah mata kini kembali menyoroti eksistensi dan gerak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, lembaga penegak hukum tersebut saat ini kembali membuat gebrakan yang menjadi magnet kuat bagi publik.

Namun sorotan publik kali ini berbeda dengan sebelumnya, yakni akhir 2009 hingga awal 2010 lalu, di mana KPK menuai simpati publik yang sangat signifikan (karena kuatnya upaya pelemahan terhadap lembaga tersebut). Kini sorotan tersebut terpecah. Sebagian tetap simpati, namun sebagian lainnya justru mulai mempertanyakan gerakan KPK, terutama kalangan politisi di senayan. Salah satunya misalnya dalam bentuk penolakan Komisi III DPR terhadap KPK, karena dua pimpinannya, yakni Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah dianggap masih memiliki kasus hukum baru-baru ini.

Apakah ini hanya akal-akalan DPR? Atau apakah politisi di DPR menyimpan “dendam” terhadap KPK? Mungkin saja. Sebab, lembaga tersebut baru mencebloskan 19 anggota DPR Periode 2004-2009 ke balik jeruji besi karena penyuapan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI)), Miranda Goeltom.

Namun, terlepas dari perdebatan itu, arah gerak KPK saat ini memang layak disoal. Performance dan kekuatan KPK yang pimpin Busyro Muqoddas ini bisa dikatakan berbeda 180 derajat dibanding KPK yang dulu, terutama saat di bawah kepemimpinan Antasari Azhar yang begitu “garang” terhadap koruptor. Saat ini, gerakan KPK untuk memberantas korupsi di Tanah Air terkesan masih setengah hati. Hal ini setelah kita menyaksikan beberapa kasus korupsi yang “tak disentuh” oleh KPK.

Alih-alih KPK beralasan belum mendapatkan barang bukti dan selalu dalam kata “penyelidikan”. Sebut saja misalnya, skandal Bailout Bank Century yang merugikan negara hingga Rp 6,7 triliun. Anehnya, meskipun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditambah rekomendasi Pansus Century DPR RI menyatakan bahwa kasus tersebut banyak kejanggalan dan pelanggaran, KPK masih saja berdalih belum mendapatkan bukti pelanggarannya.

Kasus lainnya adalah kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang hingga saat ini masih mengambang dalam ketidakpastian. Selain itu, KPK juga terkesan mengabaikan pemeriksaan terhadap Miranda Goeltom sebagai penyuap dalam pemilihan DGS BI, padahal “para korban” Miranda sudah meringkuk dalam penjara. Akibatnya, muncul bahasa kekecewaan dari salah satu Anggota Dewan, “Masa ya, penyuapnya jin.”

Berbagai kecurigaan dan prasangka terus digulirkan kepada KPK, mulai dari tudingan KPK tebang pilih, hingga takut menyentuh penguasa, termasuk juga Partai Demokrat yang notabene sebagai partai penguasa.

Lihat saja kasus Johnny Allen dalam pembangunan sarana pelabuhan dan dermaga di kawasan Indonesia Timur yang memberikan suap senilai satu miliar terhadap Politisi PAN, Abdul Hadi Jamal. Sampai saat ini, Johnny masih menghirup udara di luar penjara, padahal Abdul Hadi Jamal sudah lebih dari setahun menghuni rumah tahanan.

Melihat fakta ini, KPK selalu “tidak berkutik”, maklum karena Johnny merupakan Wakil Ketua DPP Partai Demokrat. Tindakan KPK ini dikecam kalangan politisi di luar Demokrat, seperti Golkar, PDIP, dan PPP. Sekjen DPP PPP, Irgan Chairul Mahfiz, seperti diberitakan Indonesiamonitor.com (5/2/2011) mengatakan, “Ini kan aneh. KPK tampak tebang pilih dalam mengusut sebuah kasus. Jika ada politisi Partai Demokrat yang kena kasus, KPK diam saja. Sementara jika ada politisi dari partai lain yang kena kasus, KPK langsung kejar terus. Ini ada apa, kok KPK tidak berani sama politisi PD.”

Lantas, mengapa KPK begitu lemah dan tak berdaya? Inilah pertanyaan yang coba terus diungkap, mengingat dalam penegakan hukum di negeri ini, KPK masih lebih dipercaya publik dibanding penegak hukum lainnya, seperti Polri dan Kejaksaan Agung. Apakah saat ini pimpinan KPK, meminjam istilah Mantan Wapres Jusuf Kalla, sedang shock setelah mantan Ketua KPK, Antasari Azhar dibui dan dua pimpinan lainnya dikriminalisasi?

Terlepas dari pertanyaan itu, independensi dan komitmen KPK memang tengah diragukan banyak pihak. Rumus gerak lembaga superbodi itu dinilai telah “tercampur” oleh kekuatan politik, sehingga langkahnya pun cenderung menjadi politis. KPK dianggap hanya mampu membongkar kasus sekelas ikan teri. Sementara yang sekelas hiu KPK tak berdaya, apalagi yang berkaitan dengan pemerintah, seperti BLBI dan Century.

Arah Gerak KPK

Bila benar independensi KPK sedang dipertaruhkan, maka sebenarnya KPK sedang berperang melawan dirinya sendiri. Bahkan independensi yang mati dan komitmen yang raib dan kemudian menyebabkan adanya logika tebang pilih, justru akan membuat KPK menggali kuburnya sendiri yang berdampak pada hancurnya penegakan hukum di negeri ini.

Tentu saja penegakan hukum yang menggunakan logika tebang pilih itu akan merusak hukum itu sendiri. Setidaknya, hukum telah dijadikan alat dengan tujuan terbalik sebagai penegak ketidakadilan, bukan keadilan sebagaimana mestinya. Ketidakadilan yang menjadi leluasa hanya karena kekuatan tertentu, akan menjadikan KPK runtuh secara perlahan-lahan karena ketidakadilan yang dibuatnya sendiri. Sebab ketidakadilan itu pada prinsipnya, sebagaimana ditegaskan Martin Luther King, Jr (1929–1968), seorang pemimpin perjuangan hak sipil Amerika Serikat, akan menjadi ancaman bagi keadilan sampai kapanpun.

Oleh karenanya, arah dan sepak terjang KPK tidak boleh masuk angin, tidak boleh dirasuki kekuatan politik dan kekuasaan, dan tidak boleh “bergantung” pada penguasa. Ia mesti netral dan tetap berjalan secara independen. Dengan kata lain, jika seseorang misalnya memang melakuan tindak pidana, ia tidak boleh lepas dari mata hukum untuk diadili. Di sinilah prinsip dasar equality before the law (persamaan di hadapan hukum) yang menegaskan sikap tidak pandang bulu alias tebang pilih dalam penegakan hukum.

Mampukah KPK menjalankan proses hukum semacam itu, atau ia akan menjadi penegak hukum yang menjadi penakut dan “ikut” kemauan penguasa? Jika pilihan kedua yang dipilih, lantas mau dikemanakan KPK, quo vadis KPK?

Indonesia dan Mimpi Si Mamat


Sekitar pukul 03.30 pagi, si Mamat terbangun dari tidurnya. Namun, ia menyesali mengapa dirinya harus bangun. Maklum, ia baru saja bermimpi menjalani kehidupan yang berkualitas yang penuh kesenjangan antara cita dan realita, dan jauh dari tirani kekuasaan (baca Thaghut).

Dalam mimpinya, Mamat menemukan berbagai kisah keceriaan negerinya, di mana masyarakatnya hidup damai, tentram, dan sejahtera. Tak ada jeritan tangis karena kekurangan makan, tak ada anak telantar putus sekolah yang hari-harinya hanya dihibahkan di kolong jembatan, tak ada kisah keluarga yang berani bunuh diri lantaran kemiskinan yang mendera, tak ada pula pemulung yang modal hidupnya dari hasil mengais sampah. Di “negeri mimpi” itu tak ada penderitaan apapun dialami warga.


Tidak hanya itu, dalam mimpinya, Mamat melihat negeri hukum begitu agung di mata publik. Tak ada penodaan hukum, tak ada praktik jual beli dan rekayasa hukum. Di sana, hakim menjalankan hukum secara adil, tak ada tebang pilih, tak ada politisasi hukum, dan tak ada intervensi hukum, sehingga tak ada yang bersalah menjadi benar dan yang benar menjadi salah.

Sedangkan seorang pemimpin di negeri itu adalah mereka yang mengayomi, melayani, dan mendahului kepentingan rakyatnya, bukan justru para pemimpin itulah yang minta dilayani oleh rakyatnya. Mereka mencintai rakyatnya, menghindari rekayasa sosial untuk membohongi rakyatnya, dan amanah terhadap tugas dan tanggung jawabnya terhadap rakyat. Ia bukanlah pemimpin yang gila jabatan, yang mempertaruhkan harga diri demi mempertahankan jabatannya, dan mempolitisir kepentingannya.

Mimpi Mamat ini tepatnya bisa dikatakan antitesis dari berbagai realitas yang terjadi di Indonesia saat ini. Skandal hukum yang begitu terpuruk, diwarnai dengan berbagai rekayasa dan politisasi, keadilan yang hilang dan ketidakadilan yang membudaya telah menjadi garapan hukum kita. Bahkan, setelah ketajaman hukum di Kepolisian dan Kejaksaan Agung ditumpulkan, kini lembaga superbodi, Komisi Pemberantasan Korupsi juga "dikriminalisasi" dengan intervensi penguasa.

Indonesia selama ini hanya "diobok-obok" dan digerakkan dalam agenda kepentingan yang terselubung demi memuaskan hasrat oknum penguasa. Akibatnya, data-data kemajuan dipalsukan, semua kasus direkayasa, berbagai isu-isu besar dialihkan. Sementara mata hakim yang ada di bawah kendalinya dibutakan, sehingga tak bisa melihat mana yang benar dan salah, mana perlakuan adil dan tidak. Lebih dari itu, tugas polisi diintervensi sehingga tak bisa berbuat sesuai hukum, dan kerja-kerja pembantunya diarahkan sejalan dengan kemauannya.

Di sisi lain, partai politik menjadi kekuatan absolut yang dijadikan alat merengkuh kekuasaan tanpa peduli kebenaran. Pemimpin Parpol bisa dengan leluasa mengatur anggota partainya di legislatif untuk menyukseskan rencananya. Akibatnya, anggota DPR bukan tidak layak lagi disebut sebagai wakil rakyat melainkan hanya wakil partai.

Semua itu telah menghabiskan kepercayaan publik. Coba lihat, siapakah yang percaya Presiden, Gubernur, maupun Bupati saat ini? Siapakah yang percaya polisi, hakim, dan jaksa? Siapa pula yang percaya pemimpin partai? Kepercayaan itu terus digerus oleh tindakan mereka sendiri. Kini, mimpi Mamat itu pun hanya sekadar menjadi konsumsi cerita dunia khayal dan dunia mimpi, tidak di alam nyata seperti Indonesia ini.

WPM, Jakarta Selatan, 31/3/2011

Mencintai Dengan Sederhana



Sayang...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan kata dan kalimat biasa-biasa, namun penuh makna,

Dengan bait-bait puisi nan tak puitis,

Namun menyirat kesetiaan dan kedalaman hakikat cinta...


Sayang...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan senandung nyanyian bertalu, namun berbalut rindu...

Dengan kaidah-kaindah natural serta apa adanya, namun bermakna...

Tanpa misteri, tanpa ironi...


Aku ingin mencintaimu apa adanya...

Dengan sehelai kain, namun ia kain cinta.

Dengan selembar alas, namun alas rindu,

Sebagaimana alas Fatimah dan Ali, suaminya...


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan hikayat hati yang syahdu,

Dengan nalar-nalar bisu, karenamu...

Jauh dari hipokrasi sanubari...


Aku ingin mencintaimu apa adanya,

Tanpa intervensi, tanpa rekayasa alat apapun,

Tanpa sulapan topeng-topeng kepalsuan...

Aku ingin mencintaimu lepas dari segenap ikatan khayalan...


Sayang...

Aku ingin cintaku penuh kelembutan,

Lembut laksana belaian bunda terhadap bayinya,

Lembut seperti derai angin di kesunyian malam,

Lembut ibarat senyuman mata air di pagi buta...


Sayang...

Aku ingin tulus mencintaimu,

setulus buih lautan yang rela menerima terpaan badai sekalipun...

Sayang... Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu...


WPM, Jakarta Selatan, 31/3/2011

Pukul 23.23 WIB

Kesunyian Jiwa

Untuknya di Taman Surgawi